Saturday, August 09, 2008

Surabaya

Kota ini masih seperti dulu ketika kutinggalkan. Sama sekali tidak berubah. Aku sedang tidak membicarakan fisik kota ini, ataupun pembangunannya, ataupun jalan-jalannya; tidak. Aku sedang membicarakan senyuman kota ini. Rasa ingin tahunya, keramahannya, suasananya, kilaunya, semuanya sama. Aku masih dapat merasakan atmosfer keramahan itu, ketenangan itu, kedamaian itu, rasa bersahabat itu, masih seperti dulu. Bahkan lebih.

Heran, untuk ukuran kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki atmosfer yang sangat berbeda dengan Jakarta. Keduanya memang memiliki gedung pencakar langit, keduanya juga berada di pinggir pantai, keduanya juga memiliki penduduk yang beragam; tetapi tetap saja Surabaya memiliki sikap yang jauh lebih bersahabat dari Jakarta. Lebih bersahabat terhadap sesama manusia, lebih bersahabat terhadap lingkungan, lebih bersahabat terhadap Tuhan. Ah, nampaknya aku terlalu cepat menjustifikasi.

Aku berpikir tentang New York dan Los Angeles, aku juga berpikir tentang Tokyo dan Yokohama, atau Sidney dengan Melbourne, walaupun aku belum pernah ketempat-tempat itu nampaknya mereka tidak terlalu berbeda ah satu sama lain kalau dibandingkan. Tentu saja aku tidak kompeten untuk memberikan pernyataan ini, tetapi data ini perlu aku tampilkan untuk memperkuat tulisanku. Hahahahaha. Ngarang!

Senyum kota ini masih tetap sama. Di pagi hari. Di malam hari. Kali ini sekali lagi aku meninggalkan kota ini. Dan senyum itu tetap menyertai ku seraya Boeing 747 yang kutumpangi melesat ke angkasa.

2 comments:

Anonymous said...

Aih, jadi kangen.. have you tried makanan khas Sby? Rujak cingur, rawon setan, tahu campur, dll... weh2 bikin ngilerrr

Unknown said...

Rawon Setan udah. Gak suka.

Rujak cingur. Pernah ditawarin tapi gak jadi.

Kayaknya gua emang gak suka makan deh. Hehehe.