Baru saja membaca salah satu berita di koran online berbahasa Indonesia. Berita tersebut mengenai seorang anak yang memiliki penyakit yang aneh. Bayi perempuan tersebut tidak boleh menangis. Jika menangis dia akan menjadi pucat dan biru. Bola matanya akan bergerak kebelakang dan ia menjadi kejang. Sesak dan membatu, tidak bisa bernafas. Dalam beberapa waktu, sang bayi mungil dapat meninggal seketika.
Yang menarik adalah respon dari para komentator pada artikel tersebut. Maklum, koran online tersebut membuka kesempatan untuk para pembaca mem-feed back artikel tersebut. Beberapa komentarnya adalah sbb.:
"Gua baru dengar ada penyakit seperti itu..."
"Kasihan sekali..."
"Penyakit jaman sekarang makin aneh-aneh.."
"Kalau di Indonesia itu namanya kesurupan, panggil aja Paranormal..."
"Cepat sembuh yah sayang, dunia ingin mendengar tawa mungilmu..."
(Saya sangat suka dengan respon yang terakhir).
Tentu saja itu menjadi hak kita untuk merespon apa yang ada dihati dan kepala kita, kemudian kita mengadukan jari-jari kita ke Keyboard, dan menuliskan apa yang menjadi isi kepala dan hati kita.
Yang menjadi masalah adalah mengapa yang di hati kita bisa berbeda-beda? Dari manakah asalnya pikiran-pikiran itu? Dari manakah asalnya perasaan-perasaan itu?
Saya berteori bahwa hal tersebut sangat bergantung pada perjalanan kehidupan orang tersebut. Semisal, hanya semisal, orang yang merespon dengan respon terakhir di atas adalah seorang Ibu. Dia telah mengalami; kurang lebih; pengalaman yang sama dengan anaknya, dan dia berhasil melaluinya. Tak ayal, ada nada optimisme pada komentarnya.
Yang lain mungkin jalan kehidupannya tidak bersinggungan dengan anggota keluarga yang sakit keras. Sehingga Ia memilih komentar yang netral dan tidak menyinggung siapapun.
Manusiawi, sebenarnya topik itu yang ingin diangkat di tulisan kali ini. Mungkin sang orang tua tidak bisa membaca komentar-komentar yang kita layangkan di artikel tersebut, kebetulan artikelnya berbahasa Indonesia, sementara kejadian riilnya ada di dunia barat. Tetapi setidaknya ada dukungan. Suatu doa singkat kepada Yang Maha Kuasa, dan dukungan kemanusiaan; hati nurani; bagi pembaca yang lain, yang mungkin mengalami hal yang sama.
Manusiawi, kemanusiaan, saling peduli, saling kasih, nampaknya hal tersebut menjadi masalah sangat besar di jaman serba canggih seperti sekarang ini. Manusia dapat dengan mudah memilih meninggalkan manusia lainnya dan bergaul dengan mesin-mesinnya. Tentu saja, karena mesin tidak bisa mengkritisi kita, mesin tidak bisa bergesekan dengan kita, mesin tidak bisa menyakiti hati kita, dsb. Namun coba bayangkan, suatu kehidupan tanpa kasih mesra sesama, tanpa saling membantu, tanpa tangis, tanpa pelukan. Suatu kehidupan hambar yang melaju datar di garis benang kehidupan. Apa benar itu yang kita mau??
Tuesday, November 10, 2009
Respon Manusia
Posted by sahathutajulubo at 11:21 AM 0 comments Links to this post
Tuesday, September 22, 2009
Foto Profile
Gua sering memperhatikan foto-foto profil orang di tiap account situs jejaring yang aku ikuti. Semisal Facebook, Friendster, dan juga avatar di Yahoo Messenger atau tempat lain. Bermacam ragam ditampilkan. Ada yang foto narsis, the best spot mereka, perjalanan mereka ke luar negeri, foto dengan binatang peliharaan, foto dengan keluarga, dan lain sebagainya.
Yang menjadi sorotanku adalah ketika foto profil yang digunakan adalah gambar dari si pemilik account dengan satu atau orang yang dia sayangi atau kasihi. Terutama yang hanya satu orang. Untuk sepasang suami istri mungkin hal ini adalah hal yang lumrah, walaupun sebenarnya banyak juga pasangan yang tidak memasang foto mereka berdua. Namun untuk mereka yang masih dalam tahap menjajaki, ataupun mereka yang berfoto bersama sahabatnya,
menurut saya itu adalah hal yang sangat luar biasa. Aku salut kepada mereka.Saya sendiri tidak bisa seperti itu.
(Btw, koq ini kata ganti orang pertama berubah-ubah mulai dari Gua, Aku sampai Saya yah. Bukti ketidakkonsistenan diriku nih).
Sebenarnya banyak beberapa koleksi fotoku bersama orang-orang terkasih. Ada hasrat juga sebenarnya untuk memasang foto-foto tersebut di foto profilku di Facebook, di Friendster ataupun tempat lainnya. Saat memasang itu aku seperti mendeklarasikan bahwa:
Ini lho orang yang ku kasihi. Yang dekat denganku. Yang berarti dalam hidSebenarnya sih wajar saja yah, Tuhan menempatkan orang-orang tertentu di dalam kehidupan setiap orang. Dan memang sistemnya seperti itu. Tidak mungkin Tuhan menempatkan semua orang di dalam kehidupan seseorang. Pasti Ia akan memilih orang-orang tertentu yang akan dimasukkan dalam kehidupan orang tersebut, untuk membantu dia, untuk menjaga dia, untuk bersama dia melalui fase demi fase kehidupan. Dan aku percaya akan hal tersebut.upku dan mengisi kehidupanku.
Namun itulah kelemahanku.Aku tidak ingin orang tersebut tahu bahwa aku membutuhkan dia. Aku terlalu gengsi. "Emang siapa pula yang butuh loe? Gak
Atau pun juga keterbatasanku adalah aku tidak ingin orang lain tahu bahwa aku dekat dengan seseorang. Takut diledek-ledekin atau apalah. Takut dicap apalah oleh orang-orang lain. Takut distempel bahwa "oh.. mereka dekat, jadi jangan diganggu gugat."
Hal lain, aku takut kalau saat aku memasang foto profilku dengan teman dekat yang satu, teman dekat yang lain merasa kurang dihargai. "Oh.. ternyata selama ini gua cuma nomor dua di mata Sahat." Atau, "Oh.. ternyata dia sudah punya yang baru yah." Aku takut menimbulkan kecemburuan. Akh, begitu banyak pertimbangan dan ketakutanku.
"Sekarang coba semuanya diputar balik."Bagaimana jikalau suatu waktu ternyata seseorang memasang fotoku bersama dia di foto profil account situs jejaring atau avatar-nya? Apa responku?
Hmm... sejujurnya, jikalau aku mengenal orang tersebut dan mengasihi dia, tentu aku akan menjadi sangat tersanjung. Aku akan berterima kasih kepadanya. Aku merasa spesial.Tetapi kalau tidak kenal. Aku malah bertanya-tanya. Oh.. selama ini ternyata dia menghargaiku yah. Ehmm.. wow! Great! Tapi mungkin berhenti di situ saja. Aku biasanya malas untuk mengenal orang lebih dalam. Tapi biar bagaimanapun aku tetap tersanjung. Itu berarti hidupku berarti untuk orang lain. Wow! Great!
So, sebenarnya adalah hal yang baik yah memasang foto profil saat kita bersama dengan orang-orang terkasih dan tersayang. Hanya saja aku takut hal itu membuat sesuatu yang kontroversial. Mungkin bisa dengan mengganti foto profil kita sebulan dengan yang satu, sebulan lagi dengan yang lain, sebulan lagi dengan pacar, sebulan lagi dengan sahabat, sebulan dengan keluarga, sebulan dengan binatang peliharaan, sebulan sendirian, dsb. Biar adil. Tetapi nampaknya agak sulit hal tersebut saya lakukan, karena saya agak malas mengganti foto profil. Biasanya itu bisa terpajang selama 6 bulan atau bahkan sampai ditutup account tersebut.
(Ribet amat sih 'hat!! Foto profil aja mesti dipikirin segitunya)
Posted by sahathutajulubo at 12:15 PM 5 comments Links to this post
Labels: inspirasi
Friday, September 18, 2009
Aurat
Tadi siang tiba-tiba gua memikirkan sesuatu yang belum pernah gua pikirkan sebelumnya.
Kenapa mesti ada Aurat? Kenapa mesti dibeda-bedakan bagian-bagian tubuh manusia? Kupikirkan itu semua sama.
Siapa yah yang pertama kali menciptakan istilah itu? Kemaluan. Dan untuk apa?
Hmm.. kenapa juga itu mesti pada bagian-bagian itu? Kenapa tidak pada hidung? Atau pada jari misalnya, atau pada jempol, atau manapun? Kenapa juga letaknya tidak pada organ dalam?Karena menurut saya, itu sangat menentukan perkembangan fesyen manusia sampai saat ini. Jadi teringat. Ketika manusia pertama kali jatuh ke dalam dosa, setelah memakan buah terlarang, manusia itu kemudian bersembuntyi di semak-semak.
...bersembunyilah manusia itu dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya:
"Dimanakah engkau?" Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa ngkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi."
Menurut Firman TUHAN yang tertulis dalam Alkitab, sebelumnya kedua manusia itu telanjang tetapi mereka tidak merasa malu. Setelah kemudian mereka memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, mata mereka terbuka, mereka merasa malu, mereka menyemat daun ara dan membuat cawat. Setelah itu terjadi percakapan antara TUHAN Allah dengan Adam dan Hawa. Akhirnya, TUHAN Allah sendiri yang berinisiatif membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya pada mereka.
Aha.. ternyata itu dia pentingnya Aurat!! Sehingga TUHAN Allah bisa mempraktekan konsep pengorbanan itu kepada manusia. TUHAN Allah mengambil pakaian pertama manusia dari kulit binatang. Entah dari binatang apa. Bisa Rusa, bisa juga Kijang, bisa juga Harimau, atau yang lain. Tetapi yang pasti Rusa itu, atau Kijang itu, atau Harimau itu, atau binatang apapun yang lain itu, tidak tahu menahu tentang dosa manusia. Binatang itu tidak tahu apa-apa. Bisa jadi binatang itu sedang berlarian ke sana ke mari ketika Manusia itu berbuat dosa. Mungkin juga binatang itu sedang bersantai-santai sambil meminum air dipinggir sungai di Taman Eden. Tetapi yang pasti saat itu tidak ada jalan pemikiran binatang itu sedang memikirkan apa yang sedang dilakukan kedua Manusia itu. Tetapi ternyata darahnya tertumpah untuk menutupi dosa manusia. Suatu konsep pengorbanan. Konsep Juruselamat. Konsep Keselamatan.
Hmm.. aku yakin itulah pentingnya Aurat. Aku yakin, tidak penting sebelah mana aurat itu, tetapi yang penting adalah dibutuhkan pengorbanan untuk menutupi Aurat itu sendiri. Aku percaya Aurat bukan masalah bagian tubuh manusia. Atau apapun yang bermanifestasi di tubuh manusia, tetapi aku yakin Aurat berbicara mengenai suatu perasaan malu dan takut ketika manusia berbuat dosa. Itulah Aurat. Maka selanjutnya Aurat disebut juga Kemaluan. Aku berpikir bahwa simbolisasi pada tubuh manusia yang Tuhan berikan dalam bentuk fisik (yang merupakan bagian kemaluan manusia) itu, hanyalah suatu tanda peringatan, bahwa manusia telah jatuh ke dalam dosa. Suatu dosa yang memulai segala penderitaan manusia. Suatu simbol yang mengingatkan bahwa manusia adalah lemah, tidak tahan godaan.
Maka seharusnya setiap kita mengingat kata Aurat, kita kaum manusia takut dan malu bahwa kita pernah sekali mengecewakan TUHAN Allah Pencipta kita. Dan Ia menyelamatkan kita dari kemaluan dengan menumpahkan darah binatang menutupi Aurat itu. Konsep pengorbanan pertama kali yang dilakukan TUHAN untuk manusia. Dan indahnya lagi, TUHAN Allah sendiri yang mengenakannya kepada manusia. Aku yakin TUHAN Allah begitu mengasihi manusia. Sehingga segala milikNya di Taman Eden adalah juga milik manusia. Bahkan ketika manusia diusir dari Taman Eden, TUHAN Allah tetap memberkatinya. Wow... Amazing.
Ada satu lagi yang menarik. Pertama jatuh dalam dosa, apa yang manusia buat. Ia menyemat daun dan membuat cawat. Sangat bodoh. Tidak menyelesaikan masalah. Ketika TUHAN Allah sendiri yang membuat pakaian, manusia itu dapat bergerak dengan leluasa seperti semula.
Hmm.. pemikiran yang aneh. Makin dipikirin, makin berkembang. Emang gua gini kali ya orangnya. Hehehe.
Posted by sahathutajulubo at 11:37 PM 1 comments Links to this post
Labels: buah pikiran
Wednesday, September 02, 2009
Gempa, Jakarta 2 September 2009, 7,3 Skala Richter
Ah.. tidak mungkin. Mana mungkin gedung ini rubuh karena gempa. Pikirku dalam hati. Tetapi aku pun memilih ikut berdoa saat itu. Aku memanggil nama Tuhanku sambil menuruni tangga-tangga Menara BDN, Thamrin, Jakarta. Berlari menuruni tangga bersama dengan seluruh pengunjung dan pekerja gedung tersebut.
Pukul 14:55 siang memang aku sedang berada di gedung itu. Tepatnya di lantai 26, lantai teratas gedung tersebut. Aku berada di sana sejak pukul 9-an, kebetulan memang ada pekerjaan kantor yang harus aku kerjakan di sana. Tidak ada tanda-tanda gempa sebelumnya. Tidak ada peringatan ataupun yang lainnya.
Saat itu aku sedang berdiri dari kursiku. Hmm.. aku tidak dapat mengingat kenapa aku berdiri. Kalau tidak salah aku hendak ke kamar kecil. Pada saat itulah goncangan itu terasa begitu kuat. Aku terhuyung-huyung ke sana ke mari. Dan sesaat kemudian aku sadar bahwa itu adalah gempa. Langsung teringat di benakku cerita seorang teman, Ade Rizky yang sehari-harinya memang Ia bekerja di lantai 26 gedung BDN tersebut. Ia pernah bercerita bahwa pada suatu saat terasa gempa di BDN, Ia tidak bisa berkata apa-apa. Gelas-gelas bergemeretak dan Ia hanya bisa berdoa. Kalaupun memang sudah waktunya, ya berarti itu adalah waktunya. Mengingat hal itu, tidak percaya kalau aku bisa merasakannya sendiri.
Saat itu aku bimbang antara tetap berada di tempat dan menunggu gempa usai, atau aku memilih ikut berhamburan keluar dan menyelamatkan diri. Sejujurnya, aku tidak bisa berpikir jernih dalam keadaan tersebut. Kemudian aku mendengar suara beberapa orang wanita berteriak-teriak memanggil nama Tuhannya. Aku kemudian mengambil 2 unit ponsel-ku dan kemudian aku berlari ke luar. Saat itu rasionalismeku tidak berjalan. Aku hanya mengikuti orang banyak.
Aku keluar berhamburan ke tangga bersama orang-orang banyak dan mulai menuruni anak tangga. Sambil terhuyung-huyung kami berusaha menuruni anak-anak tangga. Sampai dengan lantai 23 gempa belum berhenti. Semua orang makin panik. Kemudian aku mendengar beberapa orang nyebut. Dalam pikiranku, ah mana mungkin gedung ini runtuh. Masak sih gedung ini runtuh karena gempa. Bagaimana juga yah kalau gedung ini runtuh karena gempa? Dan dalam kondisi seperti itu aku berkata dalam hatiku:
"Ya Tuhan..."
Sampai dengan lantai 19 gempa belum juga berhenti. Beberapa sudah merasa kecapaian dan mengurangi kecepatan turunnya. Kami masih terhuyung-huyung. Sambil terhuyung-huyung, samar aku mendengar beberapa percakapan:
"Mbak ke pos Satpam aja yah, di luar. Ajak Ade sama Murni ke sana! Jangan di dalam rumah, bahaya!!". Seorang Ibu nampaknya menelpon pembantunya di rumah karena Ia mencemaskan anak-anaknya. Ia memerintahkan mereka untuk keluar rumah.
"Kamu di mana? Aku udah di tangga nih". Nampaknya sepasang kekasih, atau mungkin suami-istri sedang saling mencari dan menanyakan kabar. Aku yakin mereka bekerja di gedung yang sama.
"Oi.. ngerasain gempa gak loe!! Gua lagi di tangga turun nih." Seorang pria nampaknya menelpon sahabatnya di pihak sebelah sana. Pria ini menuruni tangga dengan lebih gontai. Sudah di lantai 12A dan gempa tidak lagi terasa.
Kemudian aku melihat seorang wanita sedang hamil tua berusaha menuruni tangga. Satu demi satu, sangat perlahan. Hmm.. ingin rasanya menolong, tapi entah apa yang bisa aku lakukan. Tidak tahu, saat itu aku memilih berlalu.
Kemudian aku terinspirasi, sambil menuruni tangga, aku meng-sms orang-orang terkasihku. Beberapa sms aku kirimkan ke sahabat-sahabatku yang berdomisili di Jakarta, sedikit menceritakan kisahku sambil tersirat menanyakan keadaan mereka. Begitu aku sudah berada di luar gedung aku menelpon keluargaku di rumah, dan meminta mereka menyalakan televisi. Aku memberikan peringatan kepada mereka, kalau-kalau akan ada bahaya Tsunami. Kebetulan yang mengangkat telepon adalah ibuku:
"Nyalain tivi ma'. Cek ada peringatan Tsunami gak. Kalau ada, biar langsung naik Taksi pergi ke arah Selatan Jakarta."
Beberapa saat kemudian aku menerima telpon dari rekanku yang mengabari bahwa pusat gempa berada di sebelah selatan pulau Jawa. Hmmm.. sedikit aku bernafas lega karena Jakarta Utara akan aman dari potensi Tsunami.
Saat di bawah dan di luar. Aku memandang ke atas gedung untuk memeriksa apakah gedung baik-baik saja. Kemudian aku mulai bertemu dengan rekan-rekanku yang lain dan kami mulai lagi bersenda gurau.
Hmm... pengalaman yang unik hari ini. Mengingatkan aku untuk selalu mengingat orang-orang terkasih dan memastikan mereka baik-baik saja.
Posted by sahathutajulubo at 9:35 PM 0 comments Links to this post
Labels: keseharian
Sunday, August 16, 2009
Blog-ku kalah dengan Facebook-ku
Blog-ku kalah nih dengan Facebook-ku. Udah beberapa lama ini aku udah gak pernah lagi update blog. Soalnya beberapa waktu terakhir ini malah lebih sering mengunjungi Facebook dari pada blog ini. Alhasil, blog ini dibiarkan terlantar deh.
Padahal sih sebenarnya Blog itu jauh lebih berguna dari pada Facebook. Dengan kita aktif sebagai Blogger, kita dipaksa untuk menulis. Jadi ingat wawancara dengan para Professor waktu dikampus dulu: "Anak muda zaman sekarang ini malas menulis. Buah pikirannya tidak dituangkan dalam bentuk tulisan." Padahal yah menurut beliau itu menulis banyak sekali manfaatnya. Selain kita bisa belajar sendiri dari tulisan kita tersebut, tulisan juga membuat suatu rekaman lintas generasi, terutama untuk generasi berikutnya.
Tapi yah bagaimana, saya ini kan penulis haus comment. Sementara itu Facebook menyajikan suatu fitur yang membuat tulisan saya gampang sekali di-comment-in, bahkan hanya tulisan singkat sedikitpun yang berupa status, bisa mendapat 100 comment sekaligus dalam waktu hanya beberapa saat. Agak berbeda dengan tawaran blogspot yang terkesan lambat untuk meninggalkan suatu comment saja. Hmmh...
Tapi biar bagaimanapun, nampaknya saya akan berusaha untuk lebih banyak menulis. Karena, dalam hati kecil saya merasa menulis buah pikiran akan lebih banyak manfaatnya dari pada sekedar membaca status dan upload foto di Facebook sana.
Posted by sahathutajulubo at 9:22 PM 2 comments Links to this post
Labels: buah pikiran

