Wednesday, February 27, 2008

American Idol Judges v.s. Komentator Mamamia Seleb Show

Sejujurnya gua agak bangga juga sih setiap nonton Mamamia terutama yang seleb show, karena pembagian peran dari komentator udah sangat terasa dan terkesan spesifik. Cuma ada beberapa bagian yang menjadi pemikiran gua.

Kenapa output American Idol bisa menjadi sangat bagus gitu ya? Melambung ke dunia Internasional

Kenapa output Mamamia tidak berkualitas Internasional, bahkan dijual dipasar lokal pun gua gak yakin berkembang?

Gua paham bahwa seorang juri dan atau komentator pada acara reality show macam American Idol dan Mamamia berfungsi bukan untuk menentukan, melainkan memberi komentar atas penampilan peserta. Akan menjadi hal yang sangat luar biasa lagi jikalau masing-masing komentator memiliki karakternya tersendiri dalam mengomentari. Itu membuat penjurian atau pengkomentaran menjadi seperti drama. Dan itu benar-benar layak untuk ditonton. Hal ini sudah dapat dirasakan dikedua acara, baik Mamamia super seleb show dan American Idol.

Hanya saja ada satu hal yang kurang dari komentator Mamamia dibanding juri-juri American Idol. Yaitu dalam hal KOMENTAR YANG MENGEDUKASI. Komentar yang mengedukasi ini seyogyanya disampaikan oleh seorang komentator bukan hanya untuk peserta melainkan juga untuk masyarakat awam. Memang dibutuhkan kejujuran di sini, dan itu tidak ada salahnya kan...

Sebagai contoh kita perhatikan komentar Madam Ivan Gunawan. Secara profesional beliau memang ahli di bidang fashion, dan setiap komentar yang beliau berikan masuk akal dan memberi pengetahuan baru. Tapi apakah kita benar-benar mengerti apa yang menjadi hal-hal dasar dalam berpakaian itu? Apakah yang harus diperhatikan dalam berpakaian saat penampilan? Adakah peserta teredukasi? Adakah masyarakat teredukasi?

Sejujurnya, saya tidak teredukasi, dan begitu juga peserta (menurut hemat saya). Hal ini terbukti bahwa peserta sering sekali mengulang kesalahan fashion. Minggu lalu ada kesalahan di sebelah sini, minggu ini kesalahan di sebelah sana, tanpa memberikan hal dasar apa yang perlu diperhatikan. Nah, hal-hal seperti inilah yang perlu diperhatikan oleh seorang komentator. Komentar yang mengedukasi baik peserta dan masyarakat.

Kita lihat contoh di lain pihak. Simon Cowell, dengan kritikan pedasnya selalu mengedukasi peserta dan masyarakat. Salah satu contoh adalah saat tema untuk peserta adalah 60-an maka mereka selalu dikritisi oleh Simon untuk tetap membawa suasana yang baru, yang kekinian, sekalipun lagunya adalah lagu jaman 60-an. Musik mereka harus baru dan tetap berkarakter seperti yang disukai pasar jaman sekarang. Itulah edukasinya. Semua harus berorientasi pasar dan pergerakan jaman.

Ini memang tidak gampang. Perlu orang berkaliber tinggi untuk bisa merangkum suatu komentar yang singkat, padat dan penuh isi. Tapi itulah yang diperlukan oleh masyarakat. Komentar-komentar yang edukatif.

5 comments:

Anonymous said...

ah..rupanya Bang Sahat ini pecinta acara mamamia ya..he..he..
gua sih sebel banget sama acara ini, apalagi tingkah pembaca acara & komentator-komentatornya itu.
memang kudu ada orang-orang seperti lu Hat, kalo gak acara mamamia bisa-bisa gak laku..he..he..

Unknown said...

Gak juga kalee.. cuman setiap pulang kantor pasti nyokap gua lagi nonton acara ini. Mau gak mau gua nimbrung. Acaranya kan lama banget bukan sih? Ampe 5 jam gitu kalo ga salah...

Unknown said...

wekekeke.....
dulu malah 6 jam, dari jam 6-12 malam, emang ga eneg apa nonton acara ga mutu kayak gitu. seleb2nya juga seleb second layer

Anonymous said...

wekss...kok muncul nama asli gw
hihihi....

Unknown said...

Dasar lu! Sekalipun second layer susah kali ngumpulinnya. Susah juga kali bikin acara kayak gitu.

Tapi iya juga, eneg. Gua aja cuman nonton 1 jam doang abis itu pergi tidur. Kelamaan.