Friday, July 18, 2008

Nintendo

Gua inget banget kejadian ini belasan tahun yang lalu. Waktu itu gua masih duduk di kelas 5 SD, tapi gua yakin banget kalau kejadian waktu itu berpengaruh banget ama kehidupan gua sekarang ini.

Alkisah waktu itu tetangga depan rumah dibeliin Nintendo ama nyokapnya. Anak itu seumuran ama gua. Batak juga, Kristen juga. Tapi kami sekolah di tempat yang berbeda. Dia di sekolah Strada-Sekolah Katolik, dan gua di SD Negri Inpres nan kumuh. Dulu sih kami cukup karib. Walaupun, yah namanya anak-anak sering tengkar dan ngerasa paling kuat disbanding yang lain. Gua pribadi ngerasa dia itu saingan waktu itu. Gua ngerasa gua harus ngerasa lebih dari dia waktu itu. Jadi ya gitu deh. Begitu dia dibeliin Nintendo ama nyokapnya gua enak-gak enak gitu setiap main Nintendo di rumah Dia.

Jaman itu yang terkenal adalah Sega, Video Cassete ama LD dan waktu itu belom ada VCD apalagi DVD. Tentu saja teman depan rumah gua itu selalu membangga-banggakan teman-temannya di sekolah yang memang cukup bonafit dibanding SD Inpres macam tempat gua belajar. Serunya:

“Temen gua si Bimo, yang rumahnya di Dewa Kembar, Beh… Dia udah punya Sega”.

Gua sih sebagai anak Kampung tulen dari Priok senyum-senyum aja ngedengernya. Dan emang bener. Pernah juga gua diajak ke rumahnya si Bimo itu. Rumahnya emang gede banget. Dan gua ngeliatin komplotan mereka lagi pada maen Sega. Gua sih cuma ngeliatin aja, sambil berbicara kepada diri sendiri

Sebenernya ngapain sih gua di sini. Cuman ngeliatin mereka maen. Diajak maen juga nggak. Udah gitu, kalopun diajak maen, ya gua gak bisa.

Dan emang gua gak bisa melakukan sebaliknya. Yang belajar di SD Inpres itu adalah sekumpulan anak kampung yang waktu gua bilang Nintendo atau Sega, mereka gak pada ngerti. Namanya juga anak-anak nelayan, anak-anak kuli panggul kayu di pelabuhan, mana kenal begitu-begituan. Meskipun begitu, gua sebenernya lebih seneng maen ama anak-anak kampung itu sih dari pada sama anak-anak borju komplotan depan rumah gua itu. Bukannya apa-apa gua gak ngerti kehidupan mereka.

Kira-kira gini kali ya perbandingannya:






Mainan Anak Kota



Mainan Anak Kampung






Nintendo



Gobak Sodor






Sega



Lompat Tali






In Line Skate



Sepatu Roda






Skate Board



Naik perahu di laut

Puncaknya adalah waktu gua akhirnya memberanikan diri minta dibeliin Nintendo ama Nyokap gua. Sebenernya gua gak enak banget sih ama Nyokap waktu itu. Gua (udah) ngerti, kalo nyokap mesti nyekolahin 5 anak sekaligus dan udah ada yang SMA, sementara keluarga depan rumah kan cuma nyekolahin 3 anak dan itu pun semua masih SD. Tapi tetep, gua maksa minta ama Nyokap. Seharian gua merengek. Ngambek. Bener-bener cuman di kamar doang. Seharian nangis. Mogok makan. Mogok belajar. Mogok apapun. Cuma mengurung diri di kamar tanda protes atas ketidakmauan Nyokap beliin gua Nintendo.

Jujur waktu itu gua sih sedih. Gua sedih karena keluarga gua gak mampu beliin gua Nintendo. Dan gak bisa dilakuin apa-apa lagi tentang hal itu. Intinya, emang keluarga gua miskin.

Nah, waktu ngerengek gitu, gua suka banget keputusan yang diambil Nyokap gua. Dia bukannya memanjakan gua, beliau malah ninggalin gua ngajar. Beliau adalah guru PPKN SMP. Bahkan ketika Bokap pulang narik (maklum Supir Angkot) pun, Bokap yang mencoba menenangkan gua. Tapi ya tetap, Nintendo gak dibeliin.

Gua suka sekali keputusan kedua orang tua gua untuk TIDAK membelikan gua Nintendo. Ya udah akhirnya gua berusaha menerima aja. Kadang maen ke tetangga depan rumah kalau maen Nintendo, dengan sedikit rasa gengsi tentunya, kadang memilih permainan yang lain seperti Kelereng, Gambaran, dll. Sampe akhirnya Nintendo teman depan rumah itu rusak. Kadang gua suka sedih juga, soalnya di hari-hari , minggu-minggu, bulan-bulan berikutnya, nyokap sering nanya-nanya berapa harga Nintendo ke orang-orang, kalau-kalau budget dia udah cukup untuk beli tuh barang. Tapi ya tetep aja gak dibeliin. Mungkin karena ini juga kali ya, masa kanak-kanak gua kurang bahagia. Hahahahahahaha.

Sebenernya yang pengen diangkat di sini adalah dua cara yang berbeda dalam mendidik anak.

  1. Teman gua, karena dia anak laki satu-satunya (di Batak sangat di banggakan), maka semua keinginan dia dipenuhi oleh kedua orang tuanya.
  2. Gua yang diajari sama nyokap gua kalau gua belum tentu menerima semua hal yang gua inginkan.

Dan memang, kalau gua melihat hasilnya sekarang ini sangat berbeda. Gua merasa gua lebih beruntung dari teman depan rumah gua ini. Gua berada di track yang benar. Setidaknya begitu menurut gua. Sementara Ia akhirnya stuck dengan pekerjaannya sebagai sekuriti kampung dikarenakan ketidakmampuannya menembus akademi polisi.

Orang tua yang baik bukanlah orang tua yang selalu menyenangkan anaknya, melainkan yang selalu memikirkan masa depan anaknya.

Thursday, July 17, 2008

I Believe

For those of you who claim yourself can sing, maybe you can hear below link first:

http://youtube.com/watch?v=TqJY8Ml_UgU

So? Can you really sing now? Haha.

Friday, July 11, 2008

Hari Pertama Masuk Sekolah

Nampaknya sekalipun aku sedang belajar menulis dalam bahasa inggris bukan berarti semua tulisanku harus menggunakan bahasa inggris. Aku akan memilih judul-judul tertentu saja.


Aku sedang membaca buku yang berjudul Laskar Pelangi tulisan dari Andrea Hirata. Hmm… sampai dengan Bab III aku melihat alurnya maju. Pemilihan kata juga belum seberapa dan metafora yang dipakai juga menurutku belum terlalu berani, atau kadang terlalu berani sehingga tidak berhasil menangkap hatiku. Namun begitu, kisah yang diangkat membawaku terus penasaran untuk mengikuti novel ini.

Ada satu hal yang menarik yang aku refleksikan kepada diriku sendiri dari cerita di awal buku Laskar Pelangi, yaitu HARI PERTAMA MASUK sekolah. Agak bingung memang, Hirata nampaknya ingat betul akan kejadian hari pertama masuk sekolahnya. Sedangkan aku, hanya sepotong gambaran kecil yang aku ingat, ya satu potong, itu pun kalau benar itu hari pertamaku masuk sekolah.

Aku waktu kecil tidak dimasukan di Taman Kanak-Kanak oleh ibundaku. Tidak tahu kenapa. Terkadang aku sirik juga sih pada masa-masa itu. Saat anak-anak lain bercerita tentang kesenangan di TK, aku hanya bisa diam saja karena tidak pernah menikmati indahnya masa Taman Kanak-Kanak. Aku masuk di sebuah sekolah 200 meter dari rumah yang bernama SDN Inpres Kalibaru 07 Pagi. Masuk di kelas 1B bersama 30 orang lebih murid lainnya. Tidak saling mengenal.

Sekolah itu adalah suatu komplek sekolah, cukup besar dan luas. Apalagi ukuran kami masih kecil-kecil, segala sesuatu terlihat luas dan tinggi-tinggi. Selain SD-ku, di sebelah luar, di bagian yang paling dekat dengan pintu gerbang, adalah SDN 05 Pagi. Dan kalau sudah sore nama tersebut berubah menjadi SDN 06 petang, sementara sekolahku SDN 08 petang. Kakak-kakakku juga semua sekolah di sana. Aku masih hapal mereka masuk SD mana.

Kakak Pertama : SDN 05 Pagi
Kakak Kedua : SDN 07 Pagi
Abang : SDN 07 Pagi
Kakak Ketiga : SDN 08 Petang
Aku : SDN 07 Pagi

Ternyata tidak ada yang masuk SDN 06 Petang dikeluargaku.

Hari pertama masuk sekolah aku sama sekali tidak ingat apa yang terjadi. Yang ku ingat waktu itu memang banyak sekali orang tua yang mengantar anak-anaknya. Aku tidak lagi ingat kegugupanku saat pertama, atau kesenanganku membeli seragam sekolah: topi, dasi dan baju sekolah; aku sama sekali tidak ingat itu semua. Aku bahkan lupa lokasi kelas mana dulu aku pertama kali belajar. Hmm… ingatanku memang payah.

Satu-satunya potongan gambar yang aku ingat adalah:

Saat kelas kami bubar, aku berlari kencang ke arah tengah lapangan, nampaknya ke arah orang tuaku, meninggalkan teman-teman di sekitarku. Sudah. That’s it. Segitu saja yang ku ingat tentang pertama kali masuk sekolah. Tidak ada hal lain yang ku ingat. Siapa Guru yang menerima kami pun aku lupa. Apakah waktu itu guru Agama, atau Ibu Guru yang tua, kurus, keriput di seluruh muka, rambut sebahu, yang selanjutnya menjadi guru kelas 1B satu tahun bersama kami. Aku sudah lupa semuanya. Tidak ada cerita maupun kenangan indah hari pertama masuk sekolah yang ku ingat. Payah!

Namun begitu, aku juga jadi terinspirasi untuk membuat tulisan tentang sahabat-sahabatku sepanjang hidupku sampai sekarang. Orang-orang yang kepadanya aku merasa nyaman untuk berteman. Nantikan saja. Cheers!


Wednesday, July 09, 2008

Plow-Harvest Law

Plow and Harvest Law, a law, simply law, similar with Archimedes Law or Newton Law. It’s simply like Gravity Law. If it stated in gravity law: if a thing is loosen in open air, it will be pulled to the earth surface. The righteous of gravity law is exactly the same with plow-harvest law; if you plow then you will harvest.

Some people have a weird mind frame about prosperity and wealth. Some people choose to hoard their riches as much as possible. They think as they hoard it a lot, it will increase a lot. As of matter of fact “yes”, it will increase, but trust me, according to the Plow-Harvest Law; it will not increase exponentially, and even (if you are unwise) it will decrease gradually.

If you want your money duplicate more, according to this law, there’s only one way to do it. The way is by give, give and give more. Giving, giving and giving. But not that kind of giving which I mention here. Giving that would just ask for your money to duplicate more. Giving that I mention here is, kind of giving with all our hearts to them who need it badly. As we know, lots of people there need our help. People who are difficult to eat everyday, people who are in deep sad of disaster, or even people who are working for humanity reason. They all need our help.

Now, let me explain how this Law works. The truth which we should now earlier about this law is:

  • - Everything which we have is not ours. They are all belongs to God.
  • - We are the treasurer of God
  • - So everything is in our hand is just temporary in our hands.
  • - God’s willing is to help their children.

So, as God’s willing to help His children who are on the bad situation, everything wills He gives for their children. If it must be money or food, of course He will give it to His children. So He will ask His dedicated treasurer to supply His riches to His children who need.

Of course, not every people realize this, that they are treasurer of God. So they use what that they have as they want.

So, God, as He see one of His treasurers trustable to through His riches to His children need, He will trust more of His riches to these treasurers. I type it once again: he will trust more of His riches of these treasurers.

And this is the miracle, that we, His trustable treasures, simply don’t get annoyed anymore of what will we eat, what we will drive, where we will live, as we also realize that we are also His children that need help. We don’t hardly thinking anymore to get more money, since we know who is the source of the riches is. The God is self.

That’s it. That is the miracle, when we fully understand that the source of riches is God Himself. We are no longer disturbed by from where we will get those needs. As we do our part to work, God will provide our needs.

That’s it. I already explain how Plow-Harvest law works.

Now is my example:
Several weeks ago, my brother in law and one of my friend lent money from me. I also borrowed some money for one of my friend. The amount of money which lent from me is more than money which I borrowed. Money which I lent is bout Rp 7 million, while money which I borrowed is about Rp.500.000,-. So, I try to practice this law. Rather than asked my brother in law and my friend for that money, I choose to pay my debt first. After I paid my debt, that night my brother in law and my friend send my money to my account. The law was worked. And yet, I do believe, even believe more, with this law.

So, are you wanted to practice this law also? If you still don’t believe it, please ask Oprah, Ford and Gates about this thing. They know this secret, so they build foundation for their riches.

Thursday, July 03, 2008

Some Blogs to Write

My brain is now full with ideas. Ideas of writings. Some of them are:

- Plow-Harvest Law
- My Bad Personality
- The Stories behinds my own created Songs
- My two new songs (which not created yet. Hahaha)

I just have not had the time to write them. I'm writing this right now is to remind me, my homework for this blog. Maybe I become lazy to write since I commit to write it in English right now. I write in English to prepare for my IELTS examination next August.

Cheers.