Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Cerita Fiksi. Show all posts

Wednesday, November 30, 2011

Cerita di Ekamai (1)


Haiyah! Masih ada nggak yah Kereta?

Aku bertanya kepada diriku sendiri setengah panik. Waktu memang sudah menunjuk hampir ke angka 12. Aku ingat temanku pernah bilang, kereta di sini – atau terkenal dengan sebutan BTS - memang akan berhenti beroperasi pada jam 11.30 malam. Di sini, di kota Bangkok. Atau setidaknya itu akan menjadi kereta terakhir yang melintas malam itu.

Sebenarnya tidak terlalu masalah sih bagaimana Aku pulang. Aku bisa saja menggunakan taksi, toh perusahaan yang akan membayar semua biayanya. Tidak hanya taksi, apartemen, laundry dan segala macam pengeluaran yang aku keluarkan dengan tajuk mempercepat proyek selesai, akan diganti seluruhnya oleh perusahaan. Hanya saja Aku agak malas berkomunikasi dengan pengemudi taksi di kota ini. Kemampuan bahasa Inggris mereka sangat minim. Aku bisa mengerti sih, tulisan latin saja nampaknya mereka baru belajar setelah di bangku Sekolah Menengah Atas.

Ah! Untung BTS-nya masih ada.

Sorot lampu sen dapat kulihat dari jarak yang cukup jauh makin lama makin mendekat dan intensitas cahayanya makin tinggi. Kemudian aku mendengar suara mesin kereta listrik bersahut-sahutan. Makin mendekat, makin mendekat, melambat, dan kemudian berhenti tepat di depanku. Kereta itu panjangnya sekitar 200 meter. Lengkap dengan pintu listrik otomatis yang akan terbuka dan tertutup hanya saat kereta berada di stasiun. Untuk beberapa orang hal tersebut sepertinya biasa, namun untuk Software Engineer yang menciptakan sistem tersebut, hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Ada begitu banyak algoritma yang digunakan. Misalnya, berapa lama pintu harus terbuka di stasiun A, dan berapa lama pintu harus terbuka di stasiun B. Tentunya beberapa stasiun perlu mendapat ekstra waktu karena transfer penumpang yang sangat banyak, sementara stasiun lain hanya sebentar saja karena bisa dikatakan sepi penumpang.

Aku menatap ke luar jendela. Beberapa Apartemen dengan beberapa lampu unit yang masih menyala, dan juga peralatan berat di lingkungan apartemen tersebut. Nampaknya akan dibangun gedung kedua di samping apartemen tersebut. Keberhasilan ada ditangan pemasaran tentunya. Kemudian aku melihat sekeliling. Kereta sangat sepi. Hampir-hampir tidak ada orang. Di satu gerbong denganku hanya ada seorang lelaki tua dengan topi menempel di kepalanya. Dia menggunakan syal hijau yang sudah agak kusam dengan motif garis-garis hijau tua bergantian dengan hijau yang lebih muda. Dia melihat ke arahku dan melemparkan senyuman. Aku membalas senyuman tersebut dengan senyuman khasku. Senyuman yang setidaknya menurutku ramah, namun tidak berlebihan.


Di sebelah kananku, di gerbong lain, terdapat sepasang kekasih, Kaukasian. Nampaknya mereka berasal dari Perancis. Mereka tidak malu bercumbu di tempat umum – mungkin karena sepi juga- dan dengan berusaha membaca gerak bibir nampaknya si Pria mengatakan Jé taime. Aku selalu suka gadis bule. Mata biru, rambut pirang, tinggi semampai dan menggunakan tangtop. Sementara si Pria berbadan tegap, tinggi dan atletis, rambut yang juga pirang, menjadikan mereka pasangan yang sangat serasi. Dan membuat sirik pemuda-pemudi Asia yang memiliki anugrah dari Tuhan berupa tampang dan postur tubuh yang kurang sempurna. Gadis itu nampak senang sekali. Berayunan di pegangan BTS, aku bingung kenapa mereka memilih bercumbu sambil berdiri. Toh tempat duduk sangat kosong. Ah! Mungkin mereka hanya akan ke stasiun berikutnya. Aku tidak melihat cincin di jemari mereka. Mungkin mereka menganut budaya hidup bersama di luar pernikahan. Orang-orang di Eropa dan Amerika Utara pada umumnya menganut budaya itu kan.

Semenit kemudian mataku sudah tertutup. Rasanya berat sekali. Beberapa hari ini memang aku susah tidur. Mungkin hanya 1 jam sehari. Kantukku sudah tidak dapat ku tahan lagi. Aku kemudian setengah terlelap.

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Aku membuka mataku sebentar. Aku melihat jam tanganku. Nampaknya aku tertidur cukup lama. Sekitar 20 menit. Sayup-sayup aku mendengar suara rel kereta yang memacu dan suara wanita yang selalu mengingatkan nama stasiun, dan suara tangisan seorang bayi.

Apa? Tangisan bayi. Iya benar tangisan seorang bayi.

Aku menoleh ke sebelah kiri. Di sana ada seorang bayi. Lengkap dengan tas gendong bayi yang biasa dipakai para pria belakangan ini.

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Tidak ada orang lain. Bahkan jauh ke gerbong-gerbong lain aku melongok, tidak ada siapa-siapa.

Aku sendirian. Dengan bayi itu.

Ini gila kataku. Aku malas berurusan dengan hal seperti ini.

Stasiun keretaku hanya tinggal 2 stasiun jauhnya. Aku harus memutuskan. Aku harus memutuskan. Kemudian aku beranjak ke dekat pintu keluar. Berusaha tidak memerdulikan bayi itu. Dia menangis makin kencang.

Gila! Ini gila! Sakit jiwa! Gila!

Dan kemudian aku melihat sepucuk amplok menonjol dari tas gendong bayi itu. Dan paras bayi tersebut rasanya campuran antara bule dan orang lokal. Seorang bayi perempuan nampaknya. Sekitar 8 atau 10 bulan. Dia cantik sekali.

Pintu kemudian terbuka, aku keluar dari kereta meninggalkan bayi tersebut. Bayi tersebut menangis makin keras. Bahkan kali ini seperti melolong. Dia seperti memanggil namaku. Aku tidak peduli. Aku memacu langkahku menjauhi kereta.

Pikirku! Ah, pasti nanti ada petugas yang menemukannya.

Aku sudah dekat ke tangga turun. Pintu kereta masih belum tertutup. Stasiun Asok memang stasiun paling sibuk di kota Bangkok, karenanya pintu terbuka cukup lama. Tidak ada siapa-siapa di tempat itu. Hanya aku seorang. Dan lolongan bayi itu.

Tiba-tiba aku berlari sedemikian cepatnya ke arah kereta. Pintu hampir saja tertutup. Aku berhasil masuk. Aku melihat ke arah bayi tersebut. Kami berjarak 1 gerbong jauhnya.

Fiuhhh! Aku menghela nafas. Kemudian aku melangkah mendekati tas biru itu.

Kemudian aku melihatnya. Bayi perempuan cantik itu. Matanya biru bagai berlian. Sangat indah. Tiba-tiba ia berhenti menangis ketika melihat ke arahku. Ia memejamkan matanya. Seolah anak Harimau yang dipeluk oleh induknya.

Aku tertegun melihatnya sangat tenang. Seolah ada hubungan batin yang dalam antara aku dengan dia. Dia nampaknya sudah terbang ke alam mimpi. Aku hanya melihatnya dari kejauhan. Kemudian bibirku bergerak seraya tiba-tiba berbisik kecil.

Amanda!


Wednesday, August 27, 2008

Di atas sepeda motor

Supra X, tipe D, meluncur kencang dengan kecepatan rata-rata hampir 70 km/jam. Mengantarkan kedua insan itu ke tempat tujuan. Segalanya berjalan cepat:

tidak ada percakapan, tidak ada basa-basi, tidak ada sentuhan fisik.

Semuanya berlalu begitu normal begitu cepat.

Malangnya hal itu tidak berlaku hanya sekali, melainkan berulang kali. Untuk berada satu motor dengan orang lain, "yang dibonceng" pun sudah merasa tidak enak, jadi dia memilih untuk tidak macam-macam. Hanya ucapan terima kasih ketika sampai dan sapaan ringan ketika bertemu. Yang empunya "yang dibonceng" tidak curiga, kebetulan "sang pengemudi" juga mengenalnya.

Lama-kelamaan "yang dibonceng" merasa tidak enak, akhirnya ia memulai:

suatu perkataan basa-basi

yang merupakan awal dari hubungan mereka yang makin dalam. Sang pengemudi menanggapinya dengan lugas dan sedikit ketus. Kebetulan sang pengemudi memang sangat cuek. Yang dibonceng diperlakukan seperti itu malah semakin merasa aman. Maklum yang dibonceng tidak suka keheningan, kediaman; tidak suka KESENDIRIAN.

Ia kembali membuka percakapan itu. Ia mulai mempertanyakan perihal yang cukup dalam, yang membuat sang pengemudi harus menjelaskan dengan agak panjang. Kecepatan motor itu mulai berkurang menjadi sekitar 55 km/jam. Pembicaraan mulai melibatkan pemikiran-pemikiran mereka sehari-hari. Rahasia-rahasia dalam pemikiran mereka yang sering terulang di alam maya mereka namun yang mereka pilih untuk mereka abaikan pun di sampaikan di atas sepeda motor itu.

Pemikiran-pemikiran aneh, yang lucu bahkan yang konyol mereka candakan. Akhirnya mereka tertawa bersama. Yang dibonceng mulai memukul punggung sang pengemudi.

Itulah sentuhan fisik mereka yang pertama. Mereka tertawa bersama.

Pembicaraan mereka berulang, hari lepas hari. Memang tidak setiap hari, namun hal itu sudah seperti kebutuhan. Suatu rutin yang tidak enak kalau dilepaskan. Bahkan, mereka bersedia meninggalkan beberapa hal lainnya untuk melangsungkan pembicaraan di atas sepeda motor itu.
Suatu hari yang dibonceng lupa membawa sapu tangannya. Sapu tangan itu, biasa digunakan olehnya untuk menutupi mulut dan hidungnya dari debu. Udara di kota itu memang jelek sekali. Debu dan asap di mana-mana, yang dibonceng tidak tahan, Ia memilih merapatkan mukanya, sambil menutupi mulut dan hidungnya dengan kedua telapak tangan, ke punggung sang pengemudi. Sang pengemudi tersentak. Ia menangkap sinyal itu. Kemudian ia melambatkan sedikit motornya, agar yang dibonceng tidak terlalu menderita. Motor itu kemudian melaju dengan kecepatan 40 km/jam. Selain itu sang pengemudi menangkap sinyal yang lain. Suatu sinyal yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Ia tidak kuasa menahannya. Ia ingin, yang dibonceng terus bersandar kepadanya.

Bahkan ketika yang dibonceng pun pulang malam, sang pengemudi mencari-cari alasan agar ia juga sepertinya pulang malam. Agar tidak ketahuan, sang pengemudi tidak melakukannya setiap kali. Ia pintar, ia memilih waktu-waktu tertentu.

Begitu pula dengan yang dibonceng. Kerap, ia memilih untuk tidak membawa sapu tangannya, hanya agar ia bisa bersandar ke punggung sang pengemudi. Sesekali ia curi-curi. Bukannya menutupi mulut dan hidungnya, ia menyandarkan pipinya ke punggung sang pengemudi, dengan alasan kecapekan. Di lain waktu, sambil memejamkan matanya ia mengeluskan pipinya itu ke punggung sang pengemudi. Pegangannya puna mulai berubah. Besi yang melingkari tempat duduk di bagian belakang motor itu, tidak lagi menjadi dasar pegangan yang dibonceng. Ia memilih untuk memegang jaket sang pengemudi. Jaket berwarna hitam, yang semenjak motor itu berlari makin lambat, selalu harum dan bersih.

Cerita mereka makin dalam. Ketika sudah tidak di jalan besar, motor makin melambat, kini kecepatannya sekitar 20 km/jam. Motor itu agak oleng ke kanan dan ke kiri. Namun mereka tetap berbicara, bercanda sambil sang pengemudi. Itu adalah momen favorit mereka. Anehnya "yang dibonceng" tidak pernah bercerita tentang sang empunya "yang dibonceng". Entah karena tidak enak atau apa, ia tidak pernah memilih topik itu. Begitu juga dengan sang pengemudi, ia tidak pernah mempertanyakan hal itu kepada yang dibonceng. Ada rasa sakit yang amat tajam kalau ia menanyakannya. Ia pernah menanyakannya sekali, namun ia rasa itu sudah cukup untuk menjaga stabilitas rutin mereka setiap sore itu.

Suatu kali pegangan yang dibonceng, tidak lagi berada di Jaket punggung belakang. Kali ini ia melingkarkan tanggannya dipinggang sang pengemudi. Itu adalah reflek. Karena rem mendadak dari sang pengemudi. Sang pengemudi melihat ke bawah. Ada rasa yang sangat... sangat... sangat... akh, tidak bisa digambarkan dengan kata-kata ketika tangan itu melingkar di pinggang sang pengemudi. Itu adalah surga sang pengemudi. Ia ingin tangan itu tetap melingkar dan tidak pernah ditarik lagi kebelakang. Namun keinginan tinggallah keinginan, tangan itu kemudian kembali ke asalnya, bahkan kembali ke besi di belakang. Sang pengemudi amat kecewa.

Gaya mengemudi sang pengemudi kini berubah, ia lebih sering ngerem mendadak. Sesekali siasatnya berhasil. Tangan itu, dengan reflek kembali melingkar dipinggang sang pengemudi. Dan surga itu kembali ia rasakan. Surga itu menjadi candu baginya, dan ingin sekali ia merasakannya setiap saat.

Suatu hari, beberapa bulan dari semuanya itu dimulai, motor itu, entah kenapa berlari kembali sangat kencang. Kecepatannya kembali menjadi 70 km/jam, bahkan sampai 80 km/jam. Yang dibonceng bingung. Teramat bingung kenapa menjadi seperti ini.

Kenapa tidak ada lagi percakapan itu...
Kenapa tidak ada lagi canda tawa itu...
Kenapa ia mesti membeli dua masker penutup sih...
Kenapa motor itu berlari semakin kencang... dan yang paling sakit dia rasakan,
Kenapa tidak ada lagi rem mendadak... surga itu...

Ia bingung. Sangat bingung. Apa yang terjadi dengan sang pengemudi. Kenapa ia menjadi sangat berubah, pikirnya. Ia sering merenungkannya. Bahkan ketika malam, ketika "yang dibonceng" dan empunya sedang bersetubuh. Ia tidak bisa menghilangkan sang pengemudi dari pikirannya. Gestur-gestur kecil yang dibuat sang pengemudi sekalipun ia pikirkan.

Kira-kira apa yah maksud dia mengangkat kedua tangan tadi sore?
Apakah dia ingin menarik perhatianku?
Tapi kenapa tidak ada lagi pembicaraan itu?
Kenapa motor itu berlari kembali sangat cepat?
Kenapa yah?
Kenapa?

Kini air mulai menetes dari mata yang dibonceng. Baginya itu terlalu sakit. Untuk di-cuek-i oleh sang pengemudi.

Kenapa Perwiraku?
Kenapa Ksatria penunggangku?
Apa yang terjadi?
Kenapa tidak kau katakan saja yang dalam hatimu?

Motor itu berlari dengan kecepatan 80 km/jam, ketika kendaraan lain tiba-tiba melintas dari jarak 20 meteran. Sang pengemudi salah perhitungan. Dengan cepat ia menekan kedua rem tangan dan kaki. Bunyi decitan rem sangat keras terdengar, sampai semua orang melihat ke mereka. Namun bukan itu yang menarik perhatian sang pengemudi. Melainkan dua tangan yang saat ini melingkar di pinggangnya. Mereka berhenti sesaat, dan kemudian melaju lagi. Ada yang aneh. Sesuatu yang sangat aneh dirasakan sang pengemudi. Ya, itu dia.

Kedua tangan itu tetap melingkar dipinggangnya.

Ia tunggu sesaat, beberapa saat, cukup lama, tangan itu tetap berada pada tempatnya. Kemudian sesuatu menempel dipunggung belakangnya. Itu adalah pipi yang dibonceng. Ia memejamkan matanya, mengelus-eluskan pipinya, kemudian mengeratkan pegangan tangannya yang melingkar di pinggang sang pengemudi. Motor itu melambat sesaat 40 km/jam. Kemudian tangan kiri sang pengemudi, dengan sangat berhati-hati, meraih kedua tangan itu, menempelkannya di tangan itu, kemudian menggenggam telapak tangan yang dibonceng. Yang dibonceng merespon, ia membalas genggaman tangan sang pengemudi. Tangan itu tergenggam cukup lama.

Kini kepala sang pengemudi berdiri dengan lebih tegak. Ia sudah memilikinya. Dia adalah orang terbahagia di dunia. Ia tidak lagi memerdulikan apa-apa. Ia berasa sudah punya semuanya.

Demikian mereka, kini tidak ada lagi sapaan ketika bertemu. Hanya senyuman ketika mereka bertemu. Senyum yang sangat manis. Mereka tidak lagi bercakap-cakap, mereka memilih untuk diam. Yang ada hanya, tangan yang melingkar di pinggang, sandaran pipi di punggung sang pengemudi, genggaman tangan mereka berdua, dan setiap hari ciuman tangan sang pengemudi ke telapak tangan yang dibonceng. Sang pengemudi sengaja membeli jenis helm yang terbuka dan bahkan ia rela tidak memakai penutup mulut dan hidung, agar ia, setiap hari, bisa mencium tangan permaisuri yang diboncengnya.

Demikian cinta mereka di atas sepeda motor. Tidak ada kata-kata. Sama sekali diam. Hanya cinta membara yang makin membasahi hati mereka masing-masing.

Entah sampai kapan...

Saturday, June 28, 2008

Memperkenalkan Zakheus

Zakheus adalah kepala pemungut cukai pada zamannya dan Ia sangat kaya raya. Mungkin kalau zaman ini beliau adalah seorang Kepala Dirjen Perpajakan negara. Ia adalah seorang Yahudi, atau bisa dikatakan seorang Yahudi yang membelot. Ia adalah duri dalam daging bagi bangsanya sendiri. Terang saja, dia memeras bangsanya sendiri dan mengembalikannya pada Kerajaan Roma. Pada saat itu memang Kerajaan Romawi merupakan kerajaan yang sangat besar dan daerah jajahannya berada di mana-mana. Salah satunya adalah tanah Yahudi.

Zakheus menjabat Kepala Dirjen Pajak di suatu kota bernama Yerikho. Yerikho adalah kota transit pada zaman itu. Merupakan kota transit untuk kota besar Yerusalem menuju daerah timur. Jadi sudah pasti perdagangan ditempat itu menjadi sangat dinamis. Tentu saja banyak barang-barang perdagangan yang berlalu lalang di kota itu, dan pertumbuhan ekonomi di kota itu sangat cepat. Dan Zakheus berhasil menjadi salah satu pemegang peranan penting di kota itu.

Sekalipun Zakheus adalah orang yang kaya, sebenarnya dia tidak hidup dengan tenang. Kalau dianalogikan dengan zaman sekarang ini mungkin Ia telah memiliki uang yang sangat banyak, rumah yang megah, mobil yang mewah, keluarga yang tercukupi, dan segala macam yang seseorang inginkan dalam hidupnya. Tetapi nampaknya itu semua belum cukup untuk seorang Zakheus. Kenapa? Karena sebenarnya Zakheus sedang menghitung hari kebinasaannya. Ia tahu persis: KONDISINYA SAMA SEKALI TIDAK AMAN. Suatu saat Ia bisa terdepak kapan saja, Ia bisa jatuh kapan saja dan bahkan Ia bisa terbunuh kapan saja.

Sebagai orang Yahudi, Ia sudah ditolak. Ia memeras bangsanya sendiri. Coba saja pikir, berapa kali orang-orang berpikir untuk memukul dia, membinasakan dia atau merajam dia dengan batu karena dosa-dosanya. Apalagi hukum Yahudi adalah hukum yang keras. Ia bisa saja dirajam batu sampai mati. Tetapi untung saja Ia bekerja untuk bangsa Romawi, tentu saja, selama Zakheus berhasil menyetor cukai tiap bulan Ia akan terus dilindungi orang Prajurit Romawi. Tetapi Zakheus paham betul Ia akan terlindungi selama, yah hanya selama, Ia berhasil menyetor kepada bangsa Romawi. Ketika Ia tidak berhasil menyetor, bruaaa!!!, ketika itu juga seluruh bangsa Yahudi dapat menghakimi dia dengan seenaknya. Dia dan seluruh keluarganya. Dan perlu dipahami juga, kalau menjadi seorang kepala pemungut cukai adalah bersifat Tender. Begitu ada orang lain yang berhasil memberikan tawaran yang lebih tinggi dari Zakheus, maka saat itu juga, Ia terancam. Ya... hal itu sangat benar. Ketika ada orang lain yang dapat memberikan tawaran lebih tinggi kepada penguasa Romawi, saat itu juga Ia bisa saja dibuang oleh penguasa Romawi. Seperti ada pepatah mengatakan: habis manis sepah dibuang.

Sebagai manusia Zakheus juga masih memiliki hati nurani. Ia capek, Ia letih memiliki hidup yang seperti ini. Ia harus bekerja keras setiap saat, Ia harus berjaga-jaga setiap saat, IA MERASA TERANCAM SETIAP SAAT. Untuk dia, hal itu sangat mengerikan. Ia pun tentu memikirkan nasib keluarganya. Ia pun tentunya bergumul dalam dirinya, Ia ingin menjadi orang yang lebih baik, mengikuti apa itu kebenaran. Sekali lagi, Ia letih dengan kehidupannya.

Sampai suatu saat, Ia mendengar seseorang bernama Yesus Kristus, Orang Nazaret. Banyak rumor yang tidak jelas tentang diriNya. Ada yang mengatakan Ia adalah Tuhan, ada yang mengatakan Ia adalah seorang Nabi, ada yang mengatakan Ia adalah Mesias yang dijanjikan Tuhan untuk menyelamatkan manusia, dan banyak hal lain yang Zakheus dengar tentang orang ini. Dalam keletihan hidupnya, Zakheus mengharapkan sebuah jawaban. Dan sekalipun Zakheus tidak pasti betul tentang kebenaran orang ini, Zakheus berpikir, mungkin orang ini bisa menjadi jawaban atas hidupku.

Ketika didengar Zakheus bahwa Yesus hendak lewat dikotanya. Zakheus meneguhkan tekadnya untuk melihat orang macam apa Yesus ini. "Aku harus melihat Dia". Sisi anak kecil Zakheus muncul dalam tekadnya itu. Kemudian Ia mempersiapkan jubahnya, alas kakinya dan penutup kepalanya, Ia berjalan keluar, mungkin dengan beberapa orang pengawalnya.

Zakheus dengan terhormat menanti Yesus di jalan utama kota Yerikho. Ia menanti sebagai pejabat terhormat kota itu. Tentu saja orang terhormat pasti akan menemui orang terhormat lain jikalau Ia main ke suatu kota. Disitulah Zakheus berdiri, masih dengan wibawa dan sedikit mendongakan kepalanya, menanti Yesus dipinggir jalan utama itu. Sampai ketika semua orang berhamburan. Terdapat begitu besar jumlah orang, sangat banyak, Jumlahnya mesti ribuan orang tiba-tiba memenuhi tempat itu. Ribuan orang berjalan dari arah sana, dan orang-orang yang menanti dijalan keluar berhamburan menyambut ribuan rombongan bersama Yesus itu.

Ah, suasana tidak lagi terkendali. Di saat seperti itu bahkan jabatan Zakheus pun sudah tidak diperdulikan orang. Orang hanya berlari memikirkan dirinya sendiri untuk melihat siapa Yesus itu. Bahkan pengawal-pengawal Zakheus pun nampaknya sudah tidak lagi mengindahkan lagi tuannya itu.

Malang bagi Zakheus, Ia memiliki postur yang cukup pendek di antara orang-orang Yahudi pada umumnya. Ia berusaha menjinjitkan telapak kakinya, namun Ia tidak dapat melihat Yesus. Ia bahkan berusaha berdiri hanya menumpu ke jari-jari kakinya, Ia masih tidak dapat melihat Yesus. Ia bahkan, ssttt..., melompat-lompat kecil, dan tetap saja postur orang-orang di depannya masih terlalu besar buat dia, lagi pula orang banyak itu terlalu besar jumlahnya untuk mendekati Yesus.

Ah ha...! Zakheus punya akal. Bagaimana kalau Ia berlari agak ke depan sedikit dan mengambil tempat yang lebih tinggi, pasti Ia bisa melihat Yesus. Maka berlarilah Ia mendahuli orang banyak. Beberapa orang yang berlari ke arah sebaliknya untuk melihat Yesus sempat melihat ke arah Zakheus. Zakheus pangling, tidak biasanya Ia berlari-lari seperti itu, Ia adalah seorang pejabat besar, ngapain pula Ia mesti mempermalukan dirinya seperti itu. Setiap saat Zakheus berpapasan dengan orang yang Ia kenal, Ia memperlambat langkah larinya, dan memberi sedikit senyum tersembunyi kepada orang tersebut. Sampai akhirnya Ia menemukan keadaan sudah agak sepi, Ia mempercepat larinya. Ia bergerak ke depan. Ia mencari-cari tempat tinggi untuk dapat melihat Yesus yang sebentar lagi melintas di depannya. Ia mencari ke sana ke mari, tetapi Ia tidak menemukan satu tembokpun untuk bisa dinaiki.

Rombongan itu mulai terlihat, suaranya mulai terdengar, Zakheus tidak bisa lagi berpikir jernih, yang Ia mau Ia hanya ingin melihat orang seperti apa Yesus itu. Akhirnya Ia memutuskan untuk menaiki salah satu pohon di jalan itu. Ia menggeser sedikit posisi jubahnya dan melihat ke sana ke mari. Beberapa orang melihat ke arahnya, Ia hanya memberikan sedikit senyum malu, untuk merespon orang-orang tersebut. Lalu Ia memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Pikirnya: Hah! entah untuk apa aku melakukan semua ini. Sampai harus memanjat pohon segala. Orang seperti apa sih memangnya Yesus itu. Awas saja kalau ternyata Ia mengecewakan. Sambil berpikir seperti itu Zakheus terus memanjat dan memanjat.

Sampai akhirnya rombongan orang banyak itu mendekat. Zakheus bisa melihat paras Yesus seperti apa. Ia persis seperti gambaran pemuda Yahudi pada umumnya. Tidak ada yang spesial dengan hal itu. Namun begitu, Zakheus tetap memuaskan diri melihat Yesus yang hanya bisa dilihatnya dalam hitungan detik itu. Ia melihat ke arah Yesus dan mulai menilai-nilai Yesus dalam benaknya. Makin dekat posisi Yesus makin merunduklah tubuh Zakheus untuk bisa dengan lebih jelas melihat Yesus. Kali ini Zakheus tidak lagi menutupi mukanya, di antara pemanjat pohon yang lain. Ia tidak lagi peduli akan sekitarnya. Ia menatap Yesus dalam-dalam supaya Ia bisa merekam wajah orang yang menjadi bahan pembicaraan bangsa Yahudi zaman itu. Ia sama sekali tidak ingin kehilangan momen itu.

Sampai suatu saat kedua mata itu, kedua mata orang yang dilihat Zakheus itu, mengikuti arah matanya, dan akhirnya kedua mata itu menatap kedua mata Zakheus. Zakheus bahkan sangat tidak percaya akan hal tersebut. Ia kini menjadi sangat inferior, merasa sangat kecil. Ia tidak percaya hal itu bisa terjadi. Dalam momen seperberapa detik itu, Ia tidak percaya kedua mata itu, wajah itu melihat ke atas, menatap dirinya. Ia seperti ditelanjangi oleh orang banyak. Awalnya kedua mata itu, kini seluruh pasang mata ribuan orang di tempat itu juga menatap Zakheus. Kini Ia benar-benar ditelanjangi di depan semua orang. Reputasinya hancur. Ia akan menjadi bahan tertawaan semua orang. Hahaha... Zakheus si pendek gendut pemeras rakyat. Hahahahhahaa.

Zakheus merasa malu ketika tiba-tiba sepasang mata itu, dari wajah yang sama, namanya disebut. "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini aku harus menumpang di rumahmu.", kata-kata itu keluar dari bibir Yesus. Zakheus kaget setengah mati. Ia tahu namaku. Ia tahu aku si Zakheus. Ia tahu namaku. Tuhan ingat padaku. Zakheus memang belum pernah bertemu dengan Yesus seumur hidupnya. Ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia memang berharap Ia dapat melihat Yesus, hanya melihat dan mungkin selamanya merekam wajah orang itu dalam benaknya. Zakheus memang sesekali berharap Yesus benar Tuhan, sehingga Ia bisa menyudahi hidupnya yang sangat menyakitkan itu. Tapi untuk dipanggil dan Tuhan menumpang di rumahnya, itu terlalu banyak. It's too much for me. Itulah yang ada dipikiran Zakheus saat itu. Ia tahu saat menyebut namanya, Zakheus, saat itu juga Zakheus tahu bahwa Yesus adalah benar Tuhan. Lalu Zakheus segera turun dan menerima Yesus dengan sangat bersuka cita.

Saat itu juga di rumah Zakheus, Ia mendengar bisikan-bisikan orang banyak itu. Mereka kesal sekali karena Yesus lebih memilih tinggal di rumah anjing keparat seperti Zakheus. Zakheus mendengar hal itu, dan Ia menangis di dapurnya. Sang istri juga bersamanya saat itu. Hidup Zakheus memang tidak enak dan Ia menyadarinya. Ia merangkul istrinya dan dengan sangat sedih Ia kembali ke hadapan orang banyak.

Kemudian Zakheus berkata di tengah orang banyak di rumahnya, tidak lagi kepada manusia tetapi kepada Tuhan:
"Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan ku kembalikan empat kali lipat.". Apa? Itukan hukum Yahudi, setiap orang yang mencuri harus mengembalikan kepada empunya empat kali lipat. Ya, benar. Zakheus sangat benar memposisikan dirinya dihadapan Tuhan. Ia datang kepada Tuhan sebagai seorang pencuri.
Kemudian Yesus menjawab:
"Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang."

Perkataan itu adalah perkataan yang sangat dibutuhkan Zakheus bertahun-tahun untuk dia dengar. Keselamatan kepada rumah ini. Kini seluruh keluarganya aman. Tidak ada lagi bencana yang akan menimpa mereka sewaktu-waktu. Tuhan pun menyatakan bahwa Zakheus masih tetap anak Abraham, masih orang Yahudi. Walaupun orang Yahudi tidak lagi menganggap Zakheus bangsa Yahudi, karena memeras bangsanya sendiri, Yesus menegaskan bahwa Ia pun anak Abraham, dan juga berhak atas berkat-berkat Abraham. Zakheus sadar betul Ia terhilang dan Tuhan telah menemukan Ia kembali. Zakheus berkumpul dengan seluruh keluarganya di tempat itu, dan Ia kembali melanjutkan pesta itu dengan orang banyak, kali ini dengan sangat bersukacita. Dia dan seluruh keluarganya, dan seluruh orang banyak itu.


Sumber dari Lukas, 19: 1-10.