Thursday, January 07, 2010

Starting Event Organizer

No more talk, no more thinking.
ACTION!!
Name:
Ginger Dusk
Slogan:
We please to make you happy

Address:
(my house for now)
Kalibaru Barat IV no 26 RT 02/07
Cilincing. Kalibaru. Jakarta Utara. 14110

Scope of Work:
Wedding, Music Concert, Exhibition, Auction, Book Author Signing, etc.

My dream is about to come true.

Monday, January 04, 2010

Membangun Choir

Belakangan sedang bekerja juga untuk membangun suatu Paduan Suara atau Koor atau Choir di gereja. Membangun suatu Paduan Suara yang berkualitas dengan kecintaan terhadap pujian-pujian indah buat Tuhan..

Dalam menjalani hal tersebut, banyak sekali masalah dan dilema. Masalah terbesar adalah: JUMLAH ORANG. Ini menjadi masalah besar sekali, karena memang zaman sekarang ini sedikit sekali anak muda yang menyukai paduan suara. Paduan Suara terdengar membosankan dan monoton. Apalagi dengan diharuskannya setiap penyanyi untuk bisa membaca partitur paduan suara. Ah.. nampaknya lebih senang bernyanyi lagu-lagu di kaset atau mp3 yang biasa diputar di radio dan televisi.

Sebenarnya banyak juga lho lagu-lagu pujian Pop masa kini yang di-arrange ulang menjadi repertoir paduan suara. Namun, ITULAH DILEMANYA.

"Ketika harus memilih jenis lagu yang ditampilkan, apakah harus dipilih lagu-lagu yang mudah, sehingga banyak penyanyi yang datang,
atau kah, pilihlah lagu-lagu yang menunjukkan "keindahan" paduan suara itu sendiri, namun sedikit penyanyi yang datang?"

Dilema ini mungkin bisa diatasi dengan gantian pemilihan lagu tiap minggu. Misalnya dalam 1 bulan terdapat 4 minggu, maka dipilih 2 minggu lagu mudah dan 2 minggu lagu paduan suara. Tetapi itu nampaknya hanya akan menjadikan kualitas paduan suara ditengah-tengah. Hmm.. mungkin bisa tingkat kesulitan dinaikkan sedikit-sedikit, tetapi itu juga kalau seluruh penyanyi konsisten datang.

Masalahnya penyanyi itu datangnya bergantian. Minggu ini si A tidak datang, minggu depan si B, minggu depannya si C. Hmm.. pusing juga.

Ternyata permasalahannya kompleks juga yah. Masalahnya Orang tua sangat menuntut pemudanya berprestasi dalam Paduan Suara. Seperti hidup dalam kebohongan. Anggotanya tidak terlalu menyukai Paduan Suara tetapi dituntut untuk suka.

Wednesday, December 30, 2009

Greeting

Merry Christmas 2009

and

Happy New Year 2010


God bless us all.

Tuesday, November 10, 2009

Respon Manusia

Baru saja membaca salah satu berita di koran online berbahasa Indonesia. Berita tersebut mengenai seorang anak yang memiliki penyakit yang aneh. Bayi perempuan tersebut tidak boleh menangis. Jika menangis dia akan menjadi pucat dan biru. Bola matanya akan bergerak kebelakang dan ia menjadi kejang. Sesak dan membatu, tidak bisa bernafas. Dalam beberapa waktu, sang bayi mungil dapat meninggal seketika.

Yang menarik adalah respon dari para komentator pada artikel tersebut. Maklum, koran online tersebut membuka kesempatan untuk para pembaca mem-feed back artikel tersebut. Beberapa komentarnya adalah sbb.:

"Gua baru dengar ada penyakit seperti itu..."

"Kasihan sekali..."

"Penyakit jaman sekarang makin aneh-aneh.."

"Kalau di Indonesia itu namanya kesurupan, panggil aja Paranormal..."

"Cepat sembuh yah sayang, dunia ingin mendengar tawa mungilmu..."

(Saya sangat suka dengan respon yang terakhir).

Tentu saja itu menjadi hak kita untuk merespon apa yang ada dihati dan kepala kita, kemudian kita mengadukan jari-jari kita ke Keyboard, dan menuliskan apa yang menjadi isi kepala dan hati kita.

Yang menjadi masalah adalah mengapa yang di hati kita bisa berbeda-beda? Dari manakah asalnya pikiran-pikiran itu? Dari manakah asalnya perasaan-perasaan itu?

Saya berteori bahwa hal tersebut sangat bergantung pada perjalanan kehidupan orang tersebut. Semisal, hanya semisal, orang yang merespon dengan respon terakhir di atas adalah seorang Ibu. Dia telah mengalami; kurang lebih; pengalaman yang sama dengan anaknya, dan dia berhasil melaluinya. Tak ayal, ada nada optimisme pada komentarnya.

Yang lain mungkin jalan kehidupannya tidak bersinggungan dengan anggota keluarga yang sakit keras. Sehingga Ia memilih komentar yang netral dan tidak menyinggung siapapun.

Manusiawi, sebenarnya topik itu yang ingin diangkat di tulisan kali ini. Mungkin sang orang tua tidak bisa membaca komentar-komentar yang kita layangkan di artikel tersebut, kebetulan artikelnya berbahasa Indonesia, sementara kejadian riilnya ada di dunia barat. Tetapi setidaknya ada dukungan. Suatu doa singkat kepada Yang Maha Kuasa, dan dukungan kemanusiaan; hati nurani; bagi pembaca yang lain, yang mungkin mengalami hal yang sama.

Manusiawi, kemanusiaan, saling peduli, saling kasih, nampaknya hal tersebut menjadi masalah sangat besar di jaman serba canggih seperti sekarang ini. Manusia dapat dengan mudah memilih meninggalkan manusia lainnya dan bergaul dengan mesin-mesinnya. Tentu saja, karena mesin tidak bisa mengkritisi kita, mesin tidak bisa bergesekan dengan kita, mesin tidak bisa menyakiti hati kita, dsb. Namun coba bayangkan, suatu kehidupan tanpa kasih mesra sesama, tanpa saling membantu, tanpa tangis, tanpa pelukan. Suatu kehidupan hambar yang melaju datar di garis benang kehidupan. Apa benar itu yang kita mau??

Tuesday, September 22, 2009

Foto Profile

Gua sering memperhatikan foto-foto profil orang di tiap account situs jejaring yang aku ikuti. Semisal Facebook, Friendster, dan juga avatar di Yahoo Messenger atau tempat lain. Bermacam ragam ditampilkan. Ada yang foto narsis, the best spot mereka, perjalanan mereka ke luar negeri, foto dengan binatang peliharaan, foto dengan keluarga, dan lain sebagainya.


Yang menjadi sorotanku adalah ketika foto profil yang digunakan adalah gambar dari si pemilik account dengan satu atau orang yang dia sayangi atau kasihi. Terutama yang hanya satu orang. Untuk sepasang suami istri mungkin hal ini adalah hal yang lumrah, walaupun sebenarnya banyak juga pasangan yang tidak memasang foto mereka berdua. Namun untuk mereka yang masih dalam tahap menjajaki, ataupun mereka yang berfoto bersama sahabatnya,
menurut saya itu adalah hal yang sangat luar biasa. Aku salut kepada mereka.
Saya sendiri tidak bisa seperti itu.

(Btw, koq ini kata ganti orang pertama berubah-ubah mulai dari Gua, Aku sampai Saya yah. Bukti ketidakkonsistenan diriku nih).

Sebenarnya banyak beberapa koleksi fotoku bersama orang-orang terkasih. Ada hasrat juga sebenarnya untuk memasang foto-foto tersebut di foto profilku di Facebook, di Friendster ataupun tempat lainnya. Saat memasang itu aku seperti mendeklarasikan bahwa:
Ini lho orang yang ku kasihi. Yang dekat denganku. Yang berarti dalam hidupku dan mengisi kehidupanku.
Sebenarnya sih wajar saja yah, Tuhan menempatkan orang-orang tertentu di dalam kehidupan setiap orang. Dan memang sistemnya seperti itu. Tidak mungkin Tuhan menempatkan semua orang di dalam kehidupan seseorang. Pasti Ia akan memilih orang-orang tertentu yang akan dimasukkan dalam kehidupan orang tersebut, untuk membantu dia, untuk menjaga dia, untuk bersama dia melalui fase demi fase kehidupan. Dan aku percaya akan hal tersebut.
Namun itulah kelemahanku.
Aku tidak ingin orang tersebut tahu bahwa aku membutuhkan dia. Aku terlalu gengsi. "Emang siapa pula yang butuh loe? Gak ada loe juga gua sanggup koq bersenang-senang."

Atau pun juga keterbatasanku adalah aku tidak ingin orang lain tahu bahwa aku dekat dengan seseorang. Takut diledek-ledekin atau apalah. Takut dicap apalah oleh orang-orang lain. Takut distempel bahwa "oh.. mereka dekat, jadi jangan diganggu gugat."

Hal lain, aku takut kalau saat aku memasang foto profilku dengan teman dekat yang satu, teman dekat yang lain merasa kurang dihargai. "Oh.. ternyata selama ini gua cuma nomor dua di mata Sahat." Atau, "Oh.. ternyata dia sudah punya yang baru yah." Aku takut menimbulkan kecemburuan. Akh, begitu banyak pertimbangan dan ketakutanku.
"Sekarang coba semuanya diputar balik."
Bagaimana jikalau suatu waktu ternyata seseorang memasang fotoku bersama dia di foto profil account situs jejaring atau avatar-nya? Apa responku?
Hmm... sejujurnya, jikalau aku mengenal orang tersebut dan mengasihi dia, tentu aku akan menjadi sangat tersanjung. Aku akan berterima kasih kepadanya. Aku merasa spesial.
Tetapi kalau tidak kenal. Aku malah bertanya-tanya. Oh.. selama ini ternyata dia menghargaiku yah. Ehmm.. wow! Great! Tapi mungkin berhenti di situ saja. Aku biasanya malas untuk mengenal orang lebih dalam. Tapi biar bagaimanapun aku tetap tersanjung. Itu berarti hidupku berarti untuk orang lain. Wow! Great!

So, sebenarnya adalah hal yang baik yah memasang foto profil saat kita bersama dengan orang-orang terkasih dan tersayang. Hanya saja aku takut hal itu membuat sesuatu yang kontroversial. Mungkin bisa dengan mengganti foto profil kita sebulan dengan yang satu, sebulan lagi dengan yang lain, sebulan lagi dengan pacar, sebulan lagi dengan sahabat, sebulan dengan keluarga, sebulan dengan binatang peliharaan, sebulan sendirian, dsb. Biar adil. Tetapi nampaknya agak sulit hal tersebut saya lakukan, karena saya agak malas mengganti foto profil. Biasanya itu bisa terpajang selama 6 bulan atau bahkan sampai ditutup account tersebut.

(Ribet amat sih 'hat!! Foto profil aja mesti dipikirin segitunya)