Kemarin lampu padam di rumahku. Mungkin petugas PLN mengalami kesulitan karena hujan yang sangat deras dan angin yang sangat kencang. Maghrib sudah datang, dan sang surya sudah tenggelam. Warna kemerahan di langit juga sudah hilang.
Aku menyalakan tiga batang lilin. Masing-masing di ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan. Seraya mengambil makanan ke piring ku, aku berbicara kepada Tuhanku. Ditemani derasnya hujan dan kencangnya angin aku berbicara kepada penciptaku. Pembicaraan itu sangat pribadi. Tidak pernah ada yang tahu selain aku dan Tuhanku.
Suatu topik yang sangat karib antara aku dan Dia. Aku menumpahkan segalanya. Semuanya. Aku tahu Dia mendengar. Sampai muncullah tiga pertanyaan kepada diriku sendiri. Aku tak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.
Pun begitu, lilin itu menjadi saksi percakapanku denganNya. Lilin itu mendengar segalanya. Begitu pula dengan dinding-dinding itu. Aku berharap bunyi deras hujan membuat samar kata-kataku.
Dan untuk segala sesuatu yang ku katakan malam itu, biarkan hanya aku dan Tuhanku yang Tahu.
Tuesday, January 13, 2009
Sunday, January 04, 2009
Ketika...
Ketika Lebah tidak lagi menghisap madu pada bungaKetika rumput tidak lagi bergoyang diterpa angin
Ketika Kumbang memilih untuk diam
dan Ketika Nirwana memilih untuk ditutupi awan
Biarkan aku menatapmu dari kejauhan
Biarkan saja lubuk ini sengsara bak gurun durjana
Biarkan saja kelopak ini ternganga dan mencurahkan air suci
Dan biarkan aku menikmati kesendirianku
Aku akan belajar
hidup tanpa hadirmu
Aku akan belajar
hidup dalam lintasan benang merah kehidupan
Ketika diam menjadi pemecah batu karang nan kokoh
Baiklah, aku akan terdiam dan menatapmu
hanya menatapmu
dari kejauhan
Saturday, January 03, 2009
Mencintai Seorang Psikopat
Sony: Satu hal yang harus engkau ingat, kau adalah milikku!Sony membentak Kiara dengan keras. Ini bukanlah pertama kali mereka membahas hal ini. Dan memang selalu berakhir seperti ini. Ironis memang, tetapi nampaknya mereka saling menerima keadaan ini.
Kiara: Tapi apakah kau milikku?
Sony: Bukan! Dan jangan pernah berharap.
Sony bukanlah orang yang jahat, bahkan tidak sama sekali. Ia juga bukan tipe orang yang suka mempermainkan wanita. Bahkan bisa dikatakan Ia adalah tipe yang setia. Hanya saja, cinta mereka adalah cinta yang terlarang. Setidaknya begitu bagi Sony.
Ade: Ngapain sih loe masih mempertahankan hubungan yang kayak begitu sama Sony? Bikin hati lu tersiksa aja.
Kiara: Biarin sih 'de, toh gua kan masih muda, gua cuma maen-maen ama dia. Gua sih asyik-asyik aja kayak begitu.
Ade: ya terserah lu sih, cuman gua risih aja ngeliat loe tersiksa terus kayak begini. Bentar-bentar nangis, bentar-bentar sedih, keganggu semua deh kegiatan lu!
Kiara: Kan itu gunanya sahabat. Gua selalu bisa dateng ke lu. Hihihihi...
Ade: Yee... terserah loe deh...
Kiara memang selalu datang ke sohib karibnya sejak kecil jika suatu pukulan keras mendarat di hati Kiara. Terutama jikalau menyangkut hubungan Kiara dengan Sony.
Ade: Lagian kalo emang si Sony bilang "lu milik dia" kenapa kalian gak jadian aja sih?
Kiara: Nggak tau juga gua 'de. Setiap gua tanya baik-baik, waktu hati dia senang, dia langsung marah. Dia bilang "itu bukan urusan kamu! Yang penting kamu adalah milikku". Gua sih setiap Dia bilang kayak gitu langsung terbang. Ya emang gua cukup puas sih 'de walau cuman sebatas itu aja.
Ade: Trus, kalau tiba-tiba lu kangen ama Dia dan pengen ketemu gimana? Sementara, setiap Dia pengen ketemu lu; lu langsung ada buat Dia.
Kiara: Ya... gua menghayal aja kisah-kisah romantis gua bersama Dia. Kalo gak, ya gua inget-inget masa-masa indah gua buat Dia.
Ade: Yee.. emang loe yang gila kalo gitu mah.
Kiara dan Ade adalah sohib sejak kecil. Mereka berdiri di bangku Sekolah Dasar yang sama, SMP yang sama bahkan SMA yang sama. Kedua sohib ini berpisah ketika berkuliah. Ade memilih kuliah di luar kota, sementara Kiara tetap tinggal di Kota kelahiran mereka. Kini mereka sudah kembali berkumpul di kota yang sama. Hanya saja tempat pekerjaan mereka berbeda. Kiara yang adalah seorang pegawai di sebuah Event Organizer ternama memang orang yang sangat cerdas dan cekatan. Sementara Ade bekerja di sebuah Bank Nasional dan memiliki hidup yang lebih santai. Kiara berkenalan dengan Sony di Event Organizer tersebut.
Kiara memang orang yang sangat jujur terhadap dirinya sendiri. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Untung saja Kiara adalah orang yang fleksibel, sehingga sakit hatinya tidak terlalu berlebihan. Tuntutan kerja Kiara mengajari dia bersifat seperti itu. Walaupun sebenarnya Kiara sangat menyayangi Sony. Bahkan Kiara merasa Sony adalah pelabuhan akhir hatinya. Kiara rela jikalau harus menghabiskan hidupnya berdua dengan Sony. Namun, setiap saat pikiran itu muncul, Kiara hanya melambungkannya ke suatu khayalan cerita dongeng dipikiran Kiara. Dia tidak kuasa untuk meminta hal itu menjadi nyata kepada Sony. Ia hanya pasrah.
Ade: Emang Orang Tuanya gak setuju sama hubunga kalian?
Kiara: Harusnya sih nggak. Agama sama, ortunya juga gak ada masalah sama suku atau latar belakang gitu. Malahan gua kompak koq sama nyokapnya. Seru malah ngobrol ama beliau.
Ade: Dia punya penyakit kali, yang buat umur Dia tinggal sejengkal lagi.
Kiara: Huss.. ngawur loe. Jangan mengada-ada. Tapi gua pernah nanya ama Nyokapnya sih tentang hal itu. Jangan-jangan bener Dia punya penyakit parah. Tapi kata Nyokapnya nggak tuh. Dia mah seger-seger aja.
Ade: Lantas, kenapa dong Dia menganggap rasa sayang kalian berdua tuh terlarang?
Kiara: Nggak tau tuh. Palingan Dia emang mau cari yang lebih baik lagi aja kali dari gua.
Ade: Gila lu 'ra! Lu tuh cantik tau. Bisa dandan. Kelihatan menarik. Pinter dan cerdas pula. Bisa menempatkan diri. Brilian. Lu di atas rata-rata tau. Sementara Dia siapa coba. Gak ada bagus-bagusnya. Penampilan biasa aja. Gak tajir-tajir amat juga. Pas-pas-an. Kere malah. Heran gua lu bisa bilang begitu.
Kiara: Tapi Dia baik banget 'de. Kayaknya emang cuma Dia deh yang bisa ngerti gua. Semua orang tuh nganggep gua musuh. Dia doang yang mau coba mengerti gua.
Ade: Iya sih.. gua ngakuin itu. Lu emang resistan banget orangnya. Emang udah bawaan Orok kali. Terang aja emang susah orang masuk ama lu. Hahahahaa. Ya sudahlah terserah lu. Kalau lu emang nganggep itu buat seneng-seneng aja, gua cuma nyaranin, jangan sampai terlalu dalam, sakitnya bakal gak ketolongan. Udah ah... gua mo tidur dulu, besok kerja. Lu tahu sendiri gua harus tidur 8 jam. Besok siang gua telpon lagi deh. HP lu aktif yah..
Friday, January 02, 2009
Mencintai Seorang Psikopat (2)
"Waduh, hujan deras banget nih, mending gua naik taksi aja lah biar aman", Kiara berbisik di hatinya sambil mengangkat telepon genggamnya dan menelpon perusahaan Taksi langganannya. Dan ketika Taksi yang dipesannya datang, Kiara sudah setengah basah kuyup. Maklum selain hujan deras angin juga bertiup sangat kencang.
Tiba-tiba telepon genggam Kiara berdering.
Hah? Please deh... Kiara tahu betul itu hanya bual belaka. Palingan juga Sony gak akan pernah menjemput Kiara. Mustahil hal itu terjadi. Palsu.
Sebentar Ia mengingat perkataan Sony di telepon tadi,
Hmm... Dia sebenarnya serius nggak sih ngomong gitu? Kiara bertanya dalam hatinya sendiri. Kemudian Ia jauh-jauh membuang pikiran itu dari dirinya. Bukan sekali atau dua kali Kiara dikecewakan akan janji-janji dan omongan manis Sony. Melainkan kerap kali. Tidak lagi bisa terhitung. Dan setiap Sony meminta maaf akan hal tersebut, Kiara hanya akan marah beberapa hari dan kemudian mengharapkan lagi cinta kasih dari Sony. Kiara terlalu candu terhadap Sony. Terlalu dalam.
Kiara menikmati sekali kasih sayangnya kepada Sony. Dan setiap tetesan balasan kasih dari Sony, Kiara menganggap itu sudah cukup untuk memuaskan dahaga kerinduannya. Jemari lentiknya yang putih mulai menyentuh kaca jendela. Kiara mengingat itu, momen paling indah dalam hidupnya, ketika kedua tangan Sony mendekap erat dirinya. Kedua tangan itu muncul dari belakang. Tidak pernah di duga-duga oleh Kiara. Kedua tangan itu kemudian mendekap tubuh Kiara dengan sangat hangat dan sebuah kata-kata melantun di telinga Kiara:
Suatu waktu, Kiara yang telah 3 jam lamanya menunggu kedatangan Sony di suatu titik temu, kemudian dibatalkan begitu saja oleh Sony. Belakangan Kiara tahu bahwa Sony membatalkan janji tersebut karena Ia pergi dengan teman-temannya. Pernah pula, Kiara meng-cancel semua janji hari tersebut karena Sony memintanya pergi bersama, namun dengan mudah Sony membatalkannya karena alasan ketiduran. Atau ketika, Kiara telah menolak niat baik Ayahnya yang ingin menjemput Kiara di Bandara, ketika Ia pulang dari Spanyol. Kala itu Ia sangat rindu kepada Sony, dan dengan mudah Sony menjawab.
Tiba-tiba telepon genggam Kiara berdering.
Kriiing.. kriiing.. Kriing.. kriing..
Nada Kiara sedikit melemah dan memanja, Sony menelpon.
Kiara: Hei...
Sony: Di mana?
Kiara: Di Taksi
Sony: Hujan deras, koq gak minta dijemput?
Kiara: Ehmm.. terakhir minta dijemput dibilang manja, emangnya gua Tukang Ojek pribadi lu apa? Jadi yah lebih baik naik Taksi. Lagi lebih enak jadi gak terkena hujan.
Sony: Kan, mahal. Lain kali kalau ada apa-apa telepon aja.
Hah? Please deh... Kiara tahu betul itu hanya bual belaka. Palingan juga Sony gak akan pernah menjemput Kiara. Mustahil hal itu terjadi. Palsu.
Kiara: Iya, nanti kalau ada kesulitan pasti telpon.Tuut.. tuut.. tuut.. tiba-tiba telepon putus. Kiara mencoba menelpon balik tetapi tidak berhasil. Untuk kedua kalinya Kiara mencoba tetap tidak berhasil. Hmmh... mungkin baterainya habis. Kiara meyakinkan dirinya sendiri. Kemudian Ia menatap ke luar jendela dan mulai berimajinasi di kepalanya. Hal favoritnya adalah, menciptakan suatu skenario-skenario khusus tentang Ia dan Sony. Ia paling suka melakukan itu, apalagi ditemani bunyi deras hujan. Ia juga percaya seluruh orang di dunia sangat senang melakukan hal yang sama. Ia tidak merasa teralienasi karenanya.
Sebentar Ia mengingat perkataan Sony di telepon tadi,
Lain kali kalau ada apa-apa telepon saja.
Hmm... Dia sebenarnya serius nggak sih ngomong gitu? Kiara bertanya dalam hatinya sendiri. Kemudian Ia jauh-jauh membuang pikiran itu dari dirinya. Bukan sekali atau dua kali Kiara dikecewakan akan janji-janji dan omongan manis Sony. Melainkan kerap kali. Tidak lagi bisa terhitung. Dan setiap Sony meminta maaf akan hal tersebut, Kiara hanya akan marah beberapa hari dan kemudian mengharapkan lagi cinta kasih dari Sony. Kiara terlalu candu terhadap Sony. Terlalu dalam.
Kiara menikmati sekali kasih sayangnya kepada Sony. Dan setiap tetesan balasan kasih dari Sony, Kiara menganggap itu sudah cukup untuk memuaskan dahaga kerinduannya. Jemari lentiknya yang putih mulai menyentuh kaca jendela. Kiara mengingat itu, momen paling indah dalam hidupnya, ketika kedua tangan Sony mendekap erat dirinya. Kedua tangan itu muncul dari belakang. Tidak pernah di duga-duga oleh Kiara. Kedua tangan itu kemudian mendekap tubuh Kiara dengan sangat hangat dan sebuah kata-kata melantun di telinga Kiara:
Aku sangat menyayangimu...Itu saja. Itu yang membuat Kiara bisa bertahan. Dengan semua perlakuan Sony terhadap dirinya.
Suatu waktu, Kiara yang telah 3 jam lamanya menunggu kedatangan Sony di suatu titik temu, kemudian dibatalkan begitu saja oleh Sony. Belakangan Kiara tahu bahwa Sony membatalkan janji tersebut karena Ia pergi dengan teman-temannya. Pernah pula, Kiara meng-cancel semua janji hari tersebut karena Sony memintanya pergi bersama, namun dengan mudah Sony membatalkannya karena alasan ketiduran. Atau ketika, Kiara telah menolak niat baik Ayahnya yang ingin menjemput Kiara di Bandara, ketika Ia pulang dari Spanyol. Kala itu Ia sangat rindu kepada Sony, dan dengan mudah Sony menjawab.
"Hah? Memangnya ada yang janji mau jemput? Gua nggak ngerasa ah..."Padahal, waktu dan tempat sudah disepakati mereka berdua. Akhirnya Supir Taksi yang terus diuntungkan setiap kali Sony menyakiti Kiara dengan janji-janjinya.
Juruselamat
Beribu-ribu tahun yang lalu, manusia pada zaman itu menanti-nantikan lahirnya Sang Juruselamat. Beberapa teks pada zaman itu menyuratkan tentang lahirnya Sang Juruselamat yang akan memperbaiki kehidupan umat manusia. Mereka semua menantikan dengan seksama tanda-tanda lahirnya Sang Juruselamat. Malangnya, banyak yang keburu meninggal padahal sang Juruselamat tersebut belum juga lahir.
Akhirnya manusia berhenti menanti, sampai akhirnya kedatangan Sang Juruselamat itu tidak lagi menjadi topik favorit.
Namun begitu, kelahiran Sang Juruselamat bukanlah tentang manusia, melainkan tentang Sang Juruselamat itu sendiri.
seluruh surga merayakan kelahiranNya. Semesta bernyanyi dan dunia bersukacita, karena Sang Juruselamat yang akan menyelamatkan manusia sepanjang abad telah lahir. Sekali untuk selamanya.
Beberapa tahun lalu, ketika musim gembala menggembalakan domba-dombanya, ketika Bintang Terang terbit di ufuk timur, barisan tentara surgawi bernyanyi menyambut kelahiran Sang Juru Selamat. Ia telah lahir ke dunia, dan tugasNya telah selesai di kayu salib.
Tinggallah kita manusia, apakah kita ingin Sang Juruselamat tersebut lahir di hati kita. Suatu waktu, suatu saat, ketika kita membiarkan Sang Juruselamat lahir di hati kita, ketika itu juga hidup kita diselamatkan. Hidup akan sangat drastis berubah. Hidup bukan lagi tentang kita, tetapi tentang Dia yang telah menyelamatkan kita.
Selamat Natal 2008 & Tahun Baru 2009.
Cerita tinggalah cerita...
Cerita menjadi legenda..
Legenda menjadi lelucon...
Akhirnya manusia berhenti menanti, sampai akhirnya kedatangan Sang Juruselamat itu tidak lagi menjadi topik favorit.
Namun begitu, kelahiran Sang Juruselamat bukanlah tentang manusia, melainkan tentang Sang Juruselamat itu sendiri.
Lihatlah...
seluruh surga merayakan kelahiranNya. Semesta bernyanyi dan dunia bersukacita, karena Sang Juruselamat yang akan menyelamatkan manusia sepanjang abad telah lahir. Sekali untuk selamanya.
Beberapa tahun lalu, ketika musim gembala menggembalakan domba-dombanya, ketika Bintang Terang terbit di ufuk timur, barisan tentara surgawi bernyanyi menyambut kelahiran Sang Juru Selamat. Ia telah lahir ke dunia, dan tugasNya telah selesai di kayu salib.
Tinggallah kita manusia, apakah kita ingin Sang Juruselamat tersebut lahir di hati kita. Suatu waktu, suatu saat, ketika kita membiarkan Sang Juruselamat lahir di hati kita, ketika itu juga hidup kita diselamatkan. Hidup akan sangat drastis berubah. Hidup bukan lagi tentang kita, tetapi tentang Dia yang telah menyelamatkan kita.
Selamat Natal 2008 & Tahun Baru 2009.
Subscribe to:
Posts (Atom)