Sunday, August 10, 2008

Medali Pertama

Baru saja baca-baca hasil perolehan medali Olimpiade Beijing 2008. Dan gua menemukan:

Medali Pertama Indonesia.

Medali yang diraih oleh atlit Indonesia adalah Medali Perunggu yang dipersembahkan oleh Irawan Eko Yuli dari cabang olah raga Angkat Besi Pria kategori 56 Kg. Puji Tuhan! Kejutan yang sama yang dipersembahkan atlit-atlit angkat besi nasional 4 tahun lalu di Athena, Yunani. 4 tahun lalu Indonesia berhasil menyabet 1 Perak dan 1 Perunggu dari cabang olah raga ini. Pun begitu, keberhasilan Lisa Rumbewas yang 4 tahun lalu berhasil meraih medali perak tidak terulang di tahun ini. Lisa harus puas berada di urutan ke empat dan tidak menghasilkan apapun.

Indonesia boleh berbangga lewat putra bangsa ini. Pria yang baru berumur 19 tahun ini sudah mampu mempersembahkan medali perunggu untuk bangsa ini. Bukan itu saja, Pria ini juga berhasil memecahkan Junior World Record dengan total Snatch dan Clean & Jerk 288. Total ini hanya terpaut tipis dari peraih medali perak Hoang Anh Tuan dari Vietnam dam peraih medali emas Long Qingguan dari China.

Prestasi ini membuat Indonesia berada di urutan ke 23 perolehan medali sementara Olimpiade Beijing 2008. Indonesia boleh berbangga, karena tidak semua negara dengan mudah dapat meraih medali di ajang bergengsi 4 tahunan ini. Ambil contoh negara tetangga, Malaysia dan Singapura sampai hari ke-3 pelaksanaan Olimpiade ini belum berhasil meraih medali apapun.

Kita doakan saja, para pejuang bangsa di Beijing Cina sana berhasil mempersembahkan yang terbaik untuk bangsa Indonesia tercinta kita ini.

Maju terus Indonesia!!

Saturday, August 09, 2008

Surabaya

Kota ini masih seperti dulu ketika kutinggalkan. Sama sekali tidak berubah. Aku sedang tidak membicarakan fisik kota ini, ataupun pembangunannya, ataupun jalan-jalannya; tidak. Aku sedang membicarakan senyuman kota ini. Rasa ingin tahunya, keramahannya, suasananya, kilaunya, semuanya sama. Aku masih dapat merasakan atmosfer keramahan itu, ketenangan itu, kedamaian itu, rasa bersahabat itu, masih seperti dulu. Bahkan lebih.

Heran, untuk ukuran kota terbesar kedua di Indonesia, Surabaya memiliki atmosfer yang sangat berbeda dengan Jakarta. Keduanya memang memiliki gedung pencakar langit, keduanya juga berada di pinggir pantai, keduanya juga memiliki penduduk yang beragam; tetapi tetap saja Surabaya memiliki sikap yang jauh lebih bersahabat dari Jakarta. Lebih bersahabat terhadap sesama manusia, lebih bersahabat terhadap lingkungan, lebih bersahabat terhadap Tuhan. Ah, nampaknya aku terlalu cepat menjustifikasi.

Aku berpikir tentang New York dan Los Angeles, aku juga berpikir tentang Tokyo dan Yokohama, atau Sidney dengan Melbourne, walaupun aku belum pernah ketempat-tempat itu nampaknya mereka tidak terlalu berbeda ah satu sama lain kalau dibandingkan. Tentu saja aku tidak kompeten untuk memberikan pernyataan ini, tetapi data ini perlu aku tampilkan untuk memperkuat tulisanku. Hahahahaha. Ngarang!

Senyum kota ini masih tetap sama. Di pagi hari. Di malam hari. Kali ini sekali lagi aku meninggalkan kota ini. Dan senyum itu tetap menyertai ku seraya Boeing 747 yang kutumpangi melesat ke angkasa.

Friday, August 08, 2008

Madam

Ini adalah panggilan akrab gua buat temen seperjuangan gua di kantor. Sebenernya ini bukan kali pertama sih seperjuangan sama beliau, dulu waktu di kuliah kami juga udah seperjuangan. Cuma kali ini lokasinya pindah ke PT Ericsson Indonesia. Nah, kalo dulu kami temen kuliah, sekarang kami adalah temen Goran (Gosip Kantoran). Huahahahahahaha...

Introducing:

Madam Igun

Baru-baru ini dia buat kehebohan di dunia persilatan Core, dengan mengirimkan email narsisnya berikut ini:

from: Indra Gunawan
to:
subject: Upss kepencet euy

Ups kekirim euy
mampir-mampir yah
jangan lupa komentarnya juga yah

Emang nih anak dari lahirnya udah narsis dan selalu bikin kehebohan. Bayangin aja, waktu pertama kalinya lahir ke dunia, dia nangis terus, kedua orang tuanya ampe bingung kenapa nih anak nangis terus udah berjam-jam. Sampai suatu ketika susternya tidak sengaja melewati cermin, nih anak langsung cekikikan ala baby gitu. Mulai dari situlah sejarah kenarsisan Igun di mulai. (lebay deh ini kayaknya)

Predikat Madam dia muncul, setelah dia kerap kali mengomentari pakaian gua saat di kantor. Bisa aja tiba-tiba dia ngomong gini:

"Aduh hat, pakaian ye' nggak matching banget deh hari ini. Kalo ye' mau pakai baju warna itu seharusnya ye' pakai sepatu warna coklat, jadinya matching gitu lho."

Gara-gara itu juga gua jadi agak concern masalah fesyen gua di kantor (kayaknya ini nggak banget deh). Dan seturut dengan acara yang bertajuk MAMAMIA di salah satu stasiun TV swasta nasional, suatu acara reality show yang menampilkan komentator dari segi fesyen oleh Madam Ivan Gunawan, di singkat, Madam Igun, maka seturut itu juga gua menganalogikan Madam Igun Mamamia dengan Madam Igun Ericsson Indonesia. Hahhahahaha...

Sebenernya predikat "madam" itu juga muncul gara-gara nih bocah (bocah-bocah juga calon bapak lho!) sering menyamakan gua dengan Ruben Onsu, partner-nya Madam Igun beneran di Mamamia.

Dia sebenernya udah lama banget ngikutin dunia blog. Dia adalah pembaca setia gua. Setiap jam dia akan me-refresh url sahathutajulubo.blogspot.com di browser-nya dan blog-blog lainnya demi mencari bahan bacaan. Di active meter gua tercatat kunjungan dia di blog gua ini mencapai 300-an, sementara gua 400-an. Kesimpulannya, dia kayaknya lebih rajin ngunjungin blog orang deh dari pada orangnya itu sendiri.

Anyway, kita lihat aja kehebohan yang dia buat, apakah nantinya dia menjadi penulis yang setia, atau nggak. Semoga sih iya. Lumayan ada wadah baru untuk bergosip, namanya wadah comment. Hahahahaha.


Nb: kayaknya ini ide yang bagus deh. Untuk nulis tentang orang-orang di sekitar gua. Introducing siapa gitu, mesti deh orangnya tersanjung. Hahaha.


Thursday, August 07, 2008

Books Which I Read Now

I read two books these days. Actually I never read two books at the same time. This is because I was bored with the 1st book-no offense to Mr. Hirata, the writer. That's why I chose to buy a new book to read. A book which I believe will be more valuable for my life and my soul.


The 1st book which I read now is Laskar Pelangi. Everybody knows this book. But honestly, I really get bored reading this book. Actually I already start to read this book since a month ago, but then I stopped, until now I never continue read it again. I don't know, I just think that too much explanation there in that book. Too much description. The story itself, I loose the story. The power of this book, in my opinion, is in the story. But I don't know the writer seems to bring forward of the scientific things, which I don't really need it. Yeah, that's the words: I don't need it. Maybe that's why I'm getting bored. Maybe later on if I continue to read this book, I will do some jump-reading (gosh, I hate it) to chase only for the story.

The 2nd book which I read is titled Know Why You Believe, by Paul E Little. The reason why I choose this book is nothing. I have no particular reason to choose this book. Ehmm... but maybe I have peculiar reason choosing this book. That was Sunday noon when I wait for my friend finished her Sunday Service. I waited her in a book store. Then, I search for English Book, Christian Rack, then I found it, the book which was the cheapest among all those Christian Books in English, Hahahahahhahaa. But I'm still hoping this book could blesses me much.

As I am a lazy reader, I supposed to read this book, maybe in two (2) or three (3) months. If, I succeeded. If not, just like The Beatles say: Let it be!

Don't Judge Book by It's Cover

Honestly, truly from the deepest down of my heart. I never use this thing every time I buy book.

Secara gitu lho, gua tuh suka banget ngeliat paduan warna-warna bagus dan desain-desain keren. Jadi yah kalau ada buku dengan isi (eh..em.. maaf) kampung dan norak, tapi sampulnya bagus, pasti tetep aja gua beli. Secara, gua emang suka.

Hmm... biasanya sebutan untuk orang-orang seperti gua ini adalah: dangkal. Dan emang gua mengakuinya:

Gua adalah orang yang dangkal

Bukan cuma buku segala sesuatu gua lihat emang dari luarnya aja. Nggak tau, nurut gua tuh ya, kalau emang sesuatu itu udah hebat banget berarti gua menganggap sesuatu itu udah bisa membenahi dirinya luar dan dalam. Jadi gua langsung menilai luarnya dulu, baru liat dalem-dalemnya. Atau bisa juga digambarkan seperti ini kali yah kalo gua ngeliat sesuatu:

pertama ngeliat, ternyata oke: + (hmm... boleh juga)
ngeliat isinya, ternyata oke: + (mantab)
kesimpulan: ++

jadi kalo gua ngeliat begini:

pertama ngeliat: + (mantab)
isinya: - (dodol)
Kesimpulan: - + (okelah)

Tapi kecenderungan gua adalah, ketika gua ngeliat sesuatu yang luarnya aja udah gak enak dilihat, gua langsung males liat dalem-dalemnya. Okelah gua lihat, tapi biasanya gua udah bersifat offensive terlebih dahulu gara-gara penampilan luarnya.

pertama ngeliat: - (hancur)
isinya: - (cenderung gua ngeliatnya ancur. Kecuali bagus banget baru gua kasih nilai +)
kesimpulan: - - (hancur banget)

Jadi kalau suatu waktu gua ketemu bapak-bapak tua renta kaya raya tapi pake baju compang-camping, gua akan langsung nganggep bapak-bapak itu hancur. Hahahaha.

Ya emang gua begini adanya. Setidaknya gua mengakui diri gua sendiri dulu deh kalau gua itu emang dangkal. Dengan begini gua kan jadinya lebih rendah hati dan mau minta tolong kepada Tuhan untuk dibenahi. Mungkin aja ada coding gua yang rusak gara-gara pahitnya masa lalu gua dulu sehingga membuat gua dangkal begini. Dan satu-satunya pribadi yang bisa betulin coding gua yah berarti Sang Pencipta gua.


Terkadang manusia juga bersikap picik! Nggak mau menerima tolong itu yang dari Maha Kuasa untuk membenahi coding dirinya yang salah. Kebanyakan penolakan itu muncul karena Tuhan menggunakan manusia lain untuk membenahi coding kita itu. Piciknya kita manusia, KITA NGGAK MAU DIAJARI. Kita lupa bahwa Tuhan bisa pakai apa saja dan siapa saja untuk mengajari kita. Yang paling penting adalah PENGAJARAN ITU, bukan siapa yang dipakai. Bodohnya kita!

Atau, setidaknya gua seperti itu. Gua paling males diajari oleh orang lain. Dalam pikiran gua, siapa dia berani mengajari gua. Yah maklumlah, gua lahir dari keluarga Batak. Ehm.. atau gua mungkin gak boleh menggeneralisasi kayak gitu yah, emang guanya aja yang bebal. Mungkin karena ini juga gua masih dangkal terus sampai sekarang. Abis sejujurnya, gua genek (kesel plus eneg) sih kalo diajarin orang lain. Sok tahu banget menurut gua. Dasar yah gua bebal banget! Gak beralasan! Dan sombong!

Hmm... yah minimal gua mengakuinya dulu kalau gua dangkal, dan gua bebal gak mau diajari. Semoga dengan pelajaran ini gua bisa menjadi orang yang lebih baik. Amin.