My Second Song.
You can play it here.
Tonight I stay, tonight I pray
Tonight I thank You God for someone in the rain
Tonight I rise, tonight I smile
Tonight I realize an angel to my life
I can go wrong, I can go strong
I can breath inside your faith
I am certain though I am burden
My wings arose as love fill me again
And as I combat the world
I'm alone in the dark
And as I receive your grace
I am saved by your hand
PS: Sorry for the damage voice.
Friday, January 04, 2008
Thursday, January 03, 2008
Gara-gara Nulis Novel
Waduh gara-gara nulis novel jadi males nulis yang lain nih.
Dasar emang gua gak bisa multitasking sih orangnya, kalo udah ngerjain yang satu mesti ditekuni ampe selesai baru bisa lanjut ke yang lain. Ada baiknya juga sih, tapi tentu aja ada buruknya juga. Baiknya gua berarti bisa konsentrasi ke satu titik tanpa bisa diganggu oleh yang lain pada satu waktu tertentu. Buruknya gua gak bisa mengerjakan sesuatu yang paralel bersamaan. Padahal kan kerjaan riil gua dateng selalu berparalel. However, gua mesti bisa deh multitasking itu walopun tersendat-sendat. Nampaknya harus memaksakan diri untuk hal itu.
Tapi seneng juga sih. Akhirnya sekali seumur hidup gua pernah nulis novel. Karya sendiri. Hahahahahaha... Walaupun kualitas sangat rendah, tapi lumayan, yang penting pernah.
Pula novel yang gua tulis berbau christmas, jadi gua seneng-seneng aja en semangat banget ngerjainnya. Ya, harus semangat lah. Tinggal 2 bab lagi. Ayo maju terussssss.
Sambil baca buku lain juga.
Wah, masih berasa liburan nih. Harus dikelarin nih novelnya minggu ini. Nti jadi males kerja lagi gara-gara ini.
Hihihihihi...
Dasar emang gua gak bisa multitasking sih orangnya, kalo udah ngerjain yang satu mesti ditekuni ampe selesai baru bisa lanjut ke yang lain. Ada baiknya juga sih, tapi tentu aja ada buruknya juga. Baiknya gua berarti bisa konsentrasi ke satu titik tanpa bisa diganggu oleh yang lain pada satu waktu tertentu. Buruknya gua gak bisa mengerjakan sesuatu yang paralel bersamaan. Padahal kan kerjaan riil gua dateng selalu berparalel. However, gua mesti bisa deh multitasking itu walopun tersendat-sendat. Nampaknya harus memaksakan diri untuk hal itu.
Tapi seneng juga sih. Akhirnya sekali seumur hidup gua pernah nulis novel. Karya sendiri. Hahahahahaha... Walaupun kualitas sangat rendah, tapi lumayan, yang penting pernah.
Pula novel yang gua tulis berbau christmas, jadi gua seneng-seneng aja en semangat banget ngerjainnya. Ya, harus semangat lah. Tinggal 2 bab lagi. Ayo maju terussssss.
Sambil baca buku lain juga.
Wah, masih berasa liburan nih. Harus dikelarin nih novelnya minggu ini. Nti jadi males kerja lagi gara-gara ini.
Hihihihihi...
Wednesday, January 02, 2008
Kisah Seorang Majus (Bagian VI)
The Scripts of Messiah
Aku pembunuh. Aku membunuh. Aku tidak dilahirkan untuk membunuh. Mengapa aku mampu membunuh. Menggantikan rasa dendam yang selama ini telah menggerogoti hati Gaspar selama ini, rasa bersalah. Ya, rasa bersalah seorang pembunuh menghantui hatinya. Hari lepas hari. Dalam pikirannya, dalam jiwanya, dalam hatinya. Ia tak bisa lepas dari itu. Namun kali ini lebih bijak. Ia juga menerima kasih dan sayang dan kepedulian dari orang lain.
Gaspar tinggal di kediaman Asgix. Ia telah lama meninggalkan dunia luar, dunia peperangan di luar sana. Ia menyendiri. Ia ditemani Parthon yang rambutnya sudah memutih. Gaspar meninggalkan dunia luar belasan tahun yang lalu, ketika perang besar antara Persia dan Romawi terjadi di Mesopotamia. Persia berhasil memenangkan peperangan itu. Gaspar tumbuh menjadi sosok yang bijak. Ia mendalami ilmu perbintangan. Ia mendalamai tulisan-tulisan kuno para majus. Ia mendalami semuanya itu. Ia mendalami ilmu-ilmu sihir, atau lebih tepatnya pengetahuan. Ia menjadi seorang majus yang jenius.
Kesukaannya adalah berjalan di sore hari nan cerah. Mengunjungi makam Asgix dan memeteraikan setangkai bunga Asentoria di Nisan tersebut. Ia menamai bunga tersebut Asentoria karena bentuknya yang mirip dengan kumpulan bintang centurion. Kemudian ia akan melanjutkan rutinitasnya dengan memandang bintang dari atap rumahnya. Ia menuliskan pergerakan bintang yang belum tercatat. Ia membukukan kejadian alam yang menyertainya. Ia menuliskannya dengan detail dan teliti. Ia suka melakukan rutinitasnnya sehari-hari. Ia menciptakan buku panduan baru untuk para majus sebenarnya.
Sampai malam itu, ketika ia sedang menengadah ke langit dan sedang memperhatikan bintang-bintang di angkasa, tiba-tiba ia melihat satu bintang di sebelah timur. Bintang itu sangat terang. Berwarna emas kemerahan. Ia tidak pernah melihat bintang itu sebelumnya. Ia mengaguminya. Bagaimana ia bisa berada di sana? Sudah belasan tahun aku melakukan ini namun aku tidak pernah melihatnya.
“Bintang timur”, tidak sengaja mulutnya berbicara. Ia terkagum-kagum dengan keindahan bintang itu. Nanarnya sempurna. Ia pasti terletak amat jauh, tapi ia bersinar sangat terang. Ia terus memperhatikan bintang itu dengan seksama. Kini ia menyipitkan sedikit matanya untuk memperhatikan bintang itu lebih dalam. Tiba-tiba ada suara berbisik di hatinya:
“Kau bukan pembunuh, Aku datang untuk menyelamatkanmu, aku datang untuk mengampuni. Kau diampuni“. Gaspar terkaget-kaget. Ia bangun dari sadarnya. Ah tidak mungkin, mana mungkin bintang itu berbicara kepadaku. Gaspar ragu. Aku sudah mulai gila. Ia kembali melihat bintang itu. Kembali ia menyipitkan matanya untuk melihat keindahan bintang itu.
”Engkau bukan pembunuh, engkau adalah biji mataku, kesayanganku. Kau bebas. Engkau harus menyambutKu”. Tiba-tiba bulu kuduk Gaspar berdiri semua. Selintas ia mengingat kejadian itu. Saat ia menghunuskan pedangnya ke Markus Aerilius, pembunuh ayah Gaspar. Ia menghunuskannya dengan penuh dendam. Ia puas membunuh manusia. Ia merasa sangat bersalah sekali karena hal itu. Ia meninggalkan dunia nyata karena itu. Ia hidup menyendiri karena Ia merasa harus menjauhi manusia. Manusia penuh nafsu, dendam dan dengki, Ia tidak ingin lagi merasakan itu. Ia ingin menjauhi manusia.
Bagaimana ia tahu rahasia hatiku yang terdalam. Bagaimana ia tahu isi hatiku. Apakah Dia penciptaku. Gaspar berpikir sangat dalam kali ini. Sangat melankolis. Kemudian ia turun dari atap rumahnya. Ia memilih cepat tidur malam itu. Ia merasa dirinya sudah gila. Hati Gaspar terkatalis. Tidak bisa tidak, rasa penasaran itu menyerang dia begitu dalam. Sekalipun ia berusaha untuk membiarkan perkataan-perkataan itu dan menganggap itu hanya halusinasi biasa ia tetap penasaran. Mungkinkah penciptaku baru saja berbicara kepadaku?
Hari itu adalah hari kunjungan rutin Balthazar ke pondok Gaspar. Mereka berdua memiliki ketertarikan yang sama. Mereka adalah orang-orang majus. Baltazhar adalah pendeta majus, namun Gaspar tidak diakui masyarakat. Bagi orang persia, Gaspar adalah pahlawan. Lihat saja perawakannya, Ia masih sangat tegap dan kuat. Mereka berdua suka berdiskusi tentang ilmu-ilmu pengetahuan. Sesuatu yang sangat didalami para majus. Baltazhar suka menceritakan kejadian-kejadian di sana kepada Gaspar, sehingga Gaspar tidak ketinggalan berita. Baltazhar banyak bercerita tentang perang yang masih berkecamuk antara Persia dan Romawi. Baltazhar tahu Gaspar tidak suka perang. Baltazhar mengerti betul Gaspar tidak suka membunuh. Ia percaya, Markus Aerilius adalah orang terakhir yang Gaspar bunuh, dan Baltazhar mendukungnya.
Sebaliknya Gaspar suka menceritakan penemuan-penemuan terbarunya tentang bintang kepada Baltazhar. Gaspar suka membagi ilmu barunya dan mereka mendiskusikannya. Mereka minum teh bersama. Parthon yang menyediakan panganan itu untuk mereka.
”Engkau lihat bintang itu, yang di sebelah timur?” Gaspar bertanya pada Baltazhar.
”Lihat” Baltazhar menghirup tehnya namun tidak melihat bintang itu.
”Itu yang berwarna emas kemerahan, lihat!”. Nadanya sedikit marah. Nampaknya Ia ingin menyampaikan sesuatu yang heboh. Baltazhar menangkapnya.
Baltazhar bangkit mendekati Gaspar. Ia melihat bintang itu. Bintang itu sangat indah.
”Lo. Aku menamainya Lo. Sang Juruselamat.”. Gaspar bergumam.
Baltazhar tidak mengindahkannya. Ia sibuk menikmati bintang itu.
”Ia tidak pernah ada di situ sebelumnya. Tidak pernah ada kapanpun. Sepertinya ia hanya sekali saja terbit sepanjang sejarah kehidupan manusia ini”. Baltazhar juga pengamat bintang. ”Bagaimana ia bisa berada di sana? Apakah ia bintang yang baru lahir? Tapi mengapa ia sangat terang?” Baltazhar menambahkan.
”Ia berbicara kepadaku”. Tiba-tiba Gaspar membuka rahasia hatinya.
”Maksud mu? Kita sama-sama tahu kalau bintang adalah penanda saja, ia tidak mungkin berbicara” Baltazhar melihat Gaspar keheranan.
”Iya aku mengerti maksudmu. Tapi pertama kali melihatnya, dalam kesendirian. Ia berbisik kepadaku. Ia tahu kedalaman hatiku. Ia tahu rahasia besarku. Ia membuka dendamku. Dan yang paling penting, ia menjawab pertanyaanku. Ia mengatakan aku bukan pembunuh, Ia mengampuni aku dan Ia mengatakan aku harus menyambutnya.”. Gaspar bercerita sangat serius.
Baltazhar berusaha mengingatkan Gaspar, ”Bintang berotasi saudaraku, Ia tidak bisa berbicara, kita tidak menyembah bintang”.
”Iya aku hanya berusaha menyampaikan apa yang ada di kedalaman hatiku kepadamu”. Gaspar berusaha jujur.
Baltazhar tersanjung dengan kejujuran itu. Ia melihat sebentar ke arah bintang itu. Bintang itu memang sangat indah. Kemudian ia melihat ke arah sahabatnya. Gaspar sedang memandangi bintang itu dengan sangat tenang, penuh pengharapan.
”Nanti akan kucoba cari, apa yang dikatakan pendahulu kita mengenai Bintang Timur ini. Nampaknya aku akan menggali sesuatu yang sangat kuno. Penuh debu. Dan engkau berhutang kepadaku”. Baltazhar akhirnya menyerah dan berjanji membantu rasa penasaran sahabatnya itu.
”Terima kasih” kata Gaspar.
Dan kemudian mereka melanjutkan perbincangan mereka. Mereka berbicara tentang apapun. Tanpa batas.
*************************************************************************
Beberapa minggu kemudian Gaspar menerima surat dari Baltazhar. Merpati peliharaan Baltazhar yang mengantarkannya. Isinya adalah:
Sahabatku,
Engkau harus lihat ini.
”Bintang Timur. Suatu saat nanti Ia akan bersinar. Ia hanya bersinar sekali dalam sejarah kehidupan manusia. Berbahagialah yang mengikuti arahnya. Berbahagialah yang akhirnya melihat DIA, juruselamat umat manusia.”
Baltazhar.
Seketika itu juga bulu kuduk Gaspar berdiri lagi. Mungkinkah? Mungkinkah hal ini? Jika benar hal ini adalah penemuan yang sangat luar biasa. Sekali seumur hidup. Sekali sepanjang sejarah manusia berabad-abad.
Gaspar menjadi sangat bersemangat. Ia melihat sebentar ke langit sebelah timur kemudian ia turun dan mengepak seluruh barangnya. Untuk ini Gaspar akan turun gunung dan ia akan ke tempat Baltazhar. Ia tahu mereka berdua perlu meneliti ini lebih dalam lagi. Baltazhar pasti butuh bantuan. Parthon kebingungan melihat tuannya membereskan barangnya.
”Kita harus ke tempat Baltazhar”. Gaspar sangat bergegas. ”Cepat bereskan barangmu!”. Parthon yang dari tadi melihat dengan penuh kebingungan langsung bergerak dan membereskan barang-barangnya.
Aku akan menyambutmu. Sang penciptaku. Gaspar berbicara sendiri dalam hatinya. Entah kenapa ia bersemangat sekali untuk hal ini. Ia tak pernah sebersemangat ini sebelumnya. Seakan-akan jiwa masa kecilnya lahir kembali. Ia bahkan tidak perduli lagi kalau ia akan turun gunung dan akan bertemu banyak orang. Ia ingin bertemu Bintang Timur itu. Ingin sekali.
Gaspar menginjakkan kakinya di Kota besar Persia. Ia asing sekali dengan segala perubahan yang terjadi. Terutama cara berpakaian manusia. Mereka semua makin gemerlap. Jubah lusuh Gaspar terlihat sangat kusam jika dibandingkan dengan mereka. Apalagi Parthon sang budak. Mereka berdua terlihat seperti orang aneh di tengah kerumunan dan gemerlapan orang tersebut. Namun Gaspar memilih untuk berkonsentrasi dengan Bintang Timur-nya, dari pada memperhatikan perubahan zaman tersebut.
Orang-orang tampak mengenalinya. Mereka berbisik sesuatu. Gaspar tahu mereka berbicara tentangnya. Tentang kepahlawanannya. Beberapa bahkan berdiri tegak saat ia lewat sebagai tanda hormat. Namun Gaspar sudah melupakan semuanya itu. Kalau dulu, mungkin akan ada sedikit kebanggaan tentang kepahlawanannya tersebut. Namun kini, Gaspar telah mengosongkan dirinya dan telah memilih jalan hidupnya yang baru.
Ia sampai di kediaman Baltazhar. Suatu istana kecil khusus untuk para pendeta majus. Wajar saja, pendeta majus dianggap mulia di negeri Persia. Mereka dianggap orang paling berpengetahuan di antara yang lainnya. Mereka memang tekun. Gaspar menoleh ke prajurit penjaga dan menanyakan Baltazhar. Sebentar ia masuk kemudian prajurit itu keluar bersama Baltazhar.
”Gaspar sahabatku...” Baltazhar memberi salam. Gaspar hanya tersenyum. Sebetulnya Baltazhar kaget apa yang membuat Gaspar memutuskan untuk turun gunung, namun Ia menunda pertanyaan itu sampai nanti, setidaknya tidak di depan prajurit jaga itu. Tanpa perlu berkata-kata nampaknya Gaspar juga sudah sepakat akan hal itu.
Baltazhar membawa Gaspar dan Parthon masuk ke kediamannya. Kediamannya adalah suatu rumah dari kayu Libanon yang sangat indah dan kuat. Tempatnya pun bersih dan rapih. Itu memang ciri khas Baltazhar. Rapih dan bersih. Ia masih tinggal seorang diri, belum ada yang mendampingi dia. Tidak tahu apakah dia ingin menyendiri selamanya atau sampai batas waktu tertentu. Mereka berdua dipersilahkan duduk sementara suruhan Baltazhar mempersiapkan kamar untuk Gaspar dan Parthon. Tentu saja Gaspar di rumah utama dan Parthon di bagian belakang, tempat suruhan lainnya berkumpul. Parthon akhirnya memilih mengikuti suruhan Baltazhar ke belakang. Kini tinggal mereka berdua.
”Jadi apakah yang akhirnya membuat engkau turun gunung wahai pahlawan” Baltazhar sedikit mengejek.
”Suara itu, Lo, Bintang Timur, semakin kuat, aku sangat penasaran. Dan aku yakin aku tidak salah. Begitu aku terima suratmu, aku langsung menuju kemari.”
”Ya, dan engkau sampai lupa membalas surat itu kalau engkau mau kemari. Aku belum menyiapkan apa-apa untuk kedatanganmu jadinya. Katakan padaku, sebegitunyakah engkau akan bintang timur itu? Sehingga hal tersebut dapat memaksa engkau turun? Kalau iya, berarti hal ini sangat serius. Engkau saja sampai turun gunung.”. Baltazhar menanyakan kepastian.
”Suara itu. Ia tahu sampai kedalaman hatiku. Ia tahu masa laluku yang kelam. Ia mengenal dendamku. Ia mengenal diriku. Engkau tahu, suara itu bahkan sepertinya lebih mengenal aku dari diriku sendiri.” Gaspar berkata begitu lirih. Baltazhar mendapat kepastiannya dengan perkataan Gaspar. Ia pun akhirnya memilih sepakat dengan sahabatnya itu. Jikalau hal ini mampu membuatnya turun gunung, hal ini pasti sangat serius bagi Gaspar.
”Jadi apa rencanamu?” Baltazhar bertanya.
”Aku akan mengikuti bintang itu. Aku ingin Ia menuntunku.”. Gaspar menjawab.
”Kamu sudah gila? Bagaimana mungkin kita bisa meraih bintang itu. Bagaimana kalau tidak ada apa-apa?”. Baltazhar spontan menjawab. Hal itu menyindir Gaspar.
”Bagaimana kalau ada apa-apa?. Apakah engkau mau melewatkan sang juruselamat manusia? Bagaimana kalau tulisan itu benar?”. Gaspar membalikkan keadaan.
Baltazhar melihat perjalanan dengan perkataan itu. Baltazhar tahu akan ada eksodus yang sangat panjang untuk hal ini. Baltazhar menyukainya. Bahkan, ini adalah impiannya. Suatu perjalanan mengejar bintang. Mempelajari bintang dan misteri di belakangnya. Tidak perlu diminta, Ia sudah sangat setuju untuk mengejar bintang itu. Namun Baltazhar tetap Baltazhar. Ia adalah pekerja yang rapih dan teratur.
”Baiklah kalau begitu. Tinggallah beberapa hari di sini. Kita kumpulkan dulu semua pemberitaan mengenai Bintang Timur ini. Siapa tahu kita bisa memperoleh informasi tambahan untuk mengejar bintang ini.”
“Terima kasih.” Gaspar berkata dengan suara yang sangat mendalam.
Baltazhar menatap sahabatnya itu dan melihat parasnya. Ia yakin itu bukan ucapan terima kasih yang biasa. Itu lebih mendalam. Itu lebih terdengar seperti terima kasih telah mempercayaiku dalam kegilaanku. Terima kasih telah ikut bersemangat bersamaku mengenai hal ini. Terima kasih sahabatku.
”Iya.” Baltazhar menjawab singkat menormalisasi keadaan yang sudah semakin melankolis. Seperti sudah menjadi mekanisme otomatis, ketika kedua orang pria berbincang-bincang, keadaan harus tetap normal dan tidak diperbolehkan sedikitpun mengarah ke pembicaraan yang sentimentil. Pria sebenarnya suka akan hal itu, tetapi mekanisme otomatis itu sering kali menghalangi mereka untuk berbicara hati ke hati.
***********************************************************************************
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmatNya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjianNya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkanNya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kiya, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepadaNya tanpa rasa takut, dalam kekudusan dan kebernaran di hadapanNya seumur hidup kita.
Apakah arti semua tulisan ini? Gaspar dan Baltazhar berpikir keras dalam hati mereka masing-masing.
”Dengar ini”, seru Baltazhar. ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan menamai dia Immanuel”.
”Mungkinkah bintang itu sebenarnya adalah bayi yang baru lahir?”, Gaspar balik bertanya.
”Mungkin saja. Sebab dari tadi semua tulisan kuno ini berbicara mengenai seorang anak, seorang bayi, perempuan hamil, anak dara, segala macam. Sepertinya bintang itu penunjuk waktu kelahiran anak itu.” Baltazhar menyeriangi.
Dan engkau Betlehem tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.
”Israel! Yahudi! Mereka ada di timur”. Gaspar mendapat pencerahan. “Dulu pengasuhku adalah seorang Yahudi. Tunggu sebentar, aku baru ingat, Iya, dulu ia pernah bercerita tentang Bintang Timur. Yang aku ingat, ia berkata Bintang itu yang akan menuntunmu kepadaNya. Itu saja. Bintang itu akan menuntunku. Aku yakin ia akan menuntunku kepada Juru selamatku.”
”Tapi masa iya, juruselamatmu, seorang bayi?”. Baltazhar berusaha bersikap skeptis. ”Lagi pula dengar ini: Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih: Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi. Nampaknya juruselamat-mu itu akan mati saat bayi. "
”Aku harus melihat dia, aku harus melihat dia. Kita harus ke Timur. Ke Bintang itu. Bintang itu akan menuntun kita kepada juruselamatku itu.” Gaspar memaksa. Ia ingin Baltazhar ikut dengannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar berteriak cukup keras. ”Raja datang, hidup sang Raja”.
Gaspar dan Baltazhar serentak bersujud dan menyembah sang raja. Sang Raja malah menyambut Gaspar dan memaksa Ia berdiri.
”Jangan begitu Gaspar, jika bukan karena engkau, mungkin aku tidak berada di sini hari ini. Aku berhutang padamu, maka aku harus kemari. Mari singgahlah di istanaku. Beristirahatlah di sana. Kita bercakap-cakap, dan engkau bisa menilai prajurit-prajuritkuku yang baru”. Tawa kecil menutup kalimat sang Raja.
Tiba-tiba Gaspar membayangkan lagi senjata, pertempuran, strategi perang, semua itu dan darah, ya darah, itulah yang membuat ia sangat takut, darah. Ia tak lagi ingin semua itu dalam hidupnya. Dengan cepat ia mengatur kata-katanya. Ia harus melakukannya, menolak permintaan Raja bisa berarti pula tiang gantungan. Bukan hal mustahil.
”Ah Raja terlalu merendah. Engkau berada di sana tentu karena kebijakan paduka dan hikmat anda nyata dengan makin majunya negeri ini. Namun, hambamu sudah lama sekali tidak mengikuti dunia perang. Hambamu sudah mundur dari dunia ini Paduka. Hamba hanya ingin mencari ketenangan hidup. Mohon mengerti hamba. Pula, hamba harus meneruskan perjalanan hamba segera, ada yang harus hamba lakukan. Maafkan kelancangan hamba.” Gaspar menjawab dengan sangat hati-hati.
Raja tidak lagi melihat kecongkakan di pria yang ada di hadapannya ini. Padahal badannya masih gagah bak pahlawan, bahkan terlihat lebih matang. Namun ia berubah menjadi sangat bijak. Tersirat sedikit kesedihan di mukanya, namun Raja tidak lagi melihat kebencian pada Gaspar. Sebenarnya Ia salut pada Gaspar. Ia adalah pria yang sangat kharismatik buat Raja.
Untuk orang lain pasti Raja akan marah jika permintaannya ditolak, tapi karena ini Gaspar, maka ia tak sanggup untuk memaksa.
”Mau kemanakah engkau pahlawan? Engkau bilang tadi akan meneruskan perjalanan. Hal penting apakah itu yang akhirnya dapat membuat engkau turun gunung?” Raja begitu tidak sabar. Hal itu pasti penting sekali sehingga Gaspar harus turun gunung.
Kedua orang majus itu lihat-lihatan. Mereka yang kini berdiri tegak dan tersembunyi di balik jubah-jubah itu terlihat berbicara isyarat satu dengan yang lain. Nampaknya mereka tidak ingin membuka hal penting tersebut secara gamblang kepada Raja. Namun Raja dapat menangkap hal itu.
”Prajurit, tunggulah di luar”. Raja tiba-tiba mengusir seluruh penjaganya ke luar ruangan. Gaspar dan Baltazhar pasti tidak bisa menolak kali ini.
”Kini tinggal kita bertiga. Kalaupun, katakanlah kepadaku apa yang akan kalian lakukan. Setidaknya ceritakanlah kepadaku sebagai seorang sahabat.”. Raja memang tidak percuma berada di tahtanya. Ia mampu membaca situasi dengan cerdik.
Kemudian Gaspar dan Baltazhar menceritakan tentang rencana perjalanan mereka. Mencari bintang itu. Tidak semua hal diceritakan kepada Raja, terutama masalah hati. Baltazhar mendukung Gaspar. Awalnya Raja kaget dengan hal tersebut. Hal yang sangat tidak masuk akal, namun saat Raja kembali mengingat bahwa hal tersebut mampu membuat seorang Gaspar turun gunung maka ia pun memandang hal itu dengan sangat serius.
Raja mendukung perjalanan itu. Ia menghormati Gaspar dan Baltazhar, namun ia sendiri tidak dapat ikut dengan mereka. Ia memberikan satu pasukan penjaganya untuk berjalan bersama Baltazhar dan Gaspar ke timur. Perjalanan yang tidak pasti. Perjalanan yang sama sekali tidak memiliki tujuan. Hanya mengejar sebuah bintang. Bintang yang bersinar terang di langit. Bintang Timur.
Aku pembunuh. Aku membunuh. Aku tidak dilahirkan untuk membunuh. Mengapa aku mampu membunuh. Menggantikan rasa dendam yang selama ini telah menggerogoti hati Gaspar selama ini, rasa bersalah. Ya, rasa bersalah seorang pembunuh menghantui hatinya. Hari lepas hari. Dalam pikirannya, dalam jiwanya, dalam hatinya. Ia tak bisa lepas dari itu. Namun kali ini lebih bijak. Ia juga menerima kasih dan sayang dan kepedulian dari orang lain.
Gaspar tinggal di kediaman Asgix. Ia telah lama meninggalkan dunia luar, dunia peperangan di luar sana. Ia menyendiri. Ia ditemani Parthon yang rambutnya sudah memutih. Gaspar meninggalkan dunia luar belasan tahun yang lalu, ketika perang besar antara Persia dan Romawi terjadi di Mesopotamia. Persia berhasil memenangkan peperangan itu. Gaspar tumbuh menjadi sosok yang bijak. Ia mendalami ilmu perbintangan. Ia mendalamai tulisan-tulisan kuno para majus. Ia mendalami semuanya itu. Ia mendalami ilmu-ilmu sihir, atau lebih tepatnya pengetahuan. Ia menjadi seorang majus yang jenius.
Kesukaannya adalah berjalan di sore hari nan cerah. Mengunjungi makam Asgix dan memeteraikan setangkai bunga Asentoria di Nisan tersebut. Ia menamai bunga tersebut Asentoria karena bentuknya yang mirip dengan kumpulan bintang centurion. Kemudian ia akan melanjutkan rutinitasnya dengan memandang bintang dari atap rumahnya. Ia menuliskan pergerakan bintang yang belum tercatat. Ia membukukan kejadian alam yang menyertainya. Ia menuliskannya dengan detail dan teliti. Ia suka melakukan rutinitasnnya sehari-hari. Ia menciptakan buku panduan baru untuk para majus sebenarnya.
Sampai malam itu, ketika ia sedang menengadah ke langit dan sedang memperhatikan bintang-bintang di angkasa, tiba-tiba ia melihat satu bintang di sebelah timur. Bintang itu sangat terang. Berwarna emas kemerahan. Ia tidak pernah melihat bintang itu sebelumnya. Ia mengaguminya. Bagaimana ia bisa berada di sana? Sudah belasan tahun aku melakukan ini namun aku tidak pernah melihatnya.
“Bintang timur”, tidak sengaja mulutnya berbicara. Ia terkagum-kagum dengan keindahan bintang itu. Nanarnya sempurna. Ia pasti terletak amat jauh, tapi ia bersinar sangat terang. Ia terus memperhatikan bintang itu dengan seksama. Kini ia menyipitkan sedikit matanya untuk memperhatikan bintang itu lebih dalam. Tiba-tiba ada suara berbisik di hatinya:
“Kau bukan pembunuh, Aku datang untuk menyelamatkanmu, aku datang untuk mengampuni. Kau diampuni“. Gaspar terkaget-kaget. Ia bangun dari sadarnya. Ah tidak mungkin, mana mungkin bintang itu berbicara kepadaku. Gaspar ragu. Aku sudah mulai gila. Ia kembali melihat bintang itu. Kembali ia menyipitkan matanya untuk melihat keindahan bintang itu.
”Engkau bukan pembunuh, engkau adalah biji mataku, kesayanganku. Kau bebas. Engkau harus menyambutKu”. Tiba-tiba bulu kuduk Gaspar berdiri semua. Selintas ia mengingat kejadian itu. Saat ia menghunuskan pedangnya ke Markus Aerilius, pembunuh ayah Gaspar. Ia menghunuskannya dengan penuh dendam. Ia puas membunuh manusia. Ia merasa sangat bersalah sekali karena hal itu. Ia meninggalkan dunia nyata karena itu. Ia hidup menyendiri karena Ia merasa harus menjauhi manusia. Manusia penuh nafsu, dendam dan dengki, Ia tidak ingin lagi merasakan itu. Ia ingin menjauhi manusia.
Bagaimana ia tahu rahasia hatiku yang terdalam. Bagaimana ia tahu isi hatiku. Apakah Dia penciptaku. Gaspar berpikir sangat dalam kali ini. Sangat melankolis. Kemudian ia turun dari atap rumahnya. Ia memilih cepat tidur malam itu. Ia merasa dirinya sudah gila. Hati Gaspar terkatalis. Tidak bisa tidak, rasa penasaran itu menyerang dia begitu dalam. Sekalipun ia berusaha untuk membiarkan perkataan-perkataan itu dan menganggap itu hanya halusinasi biasa ia tetap penasaran. Mungkinkah penciptaku baru saja berbicara kepadaku?
Hari itu adalah hari kunjungan rutin Balthazar ke pondok Gaspar. Mereka berdua memiliki ketertarikan yang sama. Mereka adalah orang-orang majus. Baltazhar adalah pendeta majus, namun Gaspar tidak diakui masyarakat. Bagi orang persia, Gaspar adalah pahlawan. Lihat saja perawakannya, Ia masih sangat tegap dan kuat. Mereka berdua suka berdiskusi tentang ilmu-ilmu pengetahuan. Sesuatu yang sangat didalami para majus. Baltazhar suka menceritakan kejadian-kejadian di sana kepada Gaspar, sehingga Gaspar tidak ketinggalan berita. Baltazhar banyak bercerita tentang perang yang masih berkecamuk antara Persia dan Romawi. Baltazhar tahu Gaspar tidak suka perang. Baltazhar mengerti betul Gaspar tidak suka membunuh. Ia percaya, Markus Aerilius adalah orang terakhir yang Gaspar bunuh, dan Baltazhar mendukungnya.
Sebaliknya Gaspar suka menceritakan penemuan-penemuan terbarunya tentang bintang kepada Baltazhar. Gaspar suka membagi ilmu barunya dan mereka mendiskusikannya. Mereka minum teh bersama. Parthon yang menyediakan panganan itu untuk mereka.
”Engkau lihat bintang itu, yang di sebelah timur?” Gaspar bertanya pada Baltazhar.
”Lihat” Baltazhar menghirup tehnya namun tidak melihat bintang itu.
”Itu yang berwarna emas kemerahan, lihat!”. Nadanya sedikit marah. Nampaknya Ia ingin menyampaikan sesuatu yang heboh. Baltazhar menangkapnya.
Baltazhar bangkit mendekati Gaspar. Ia melihat bintang itu. Bintang itu sangat indah.
”Lo. Aku menamainya Lo. Sang Juruselamat.”. Gaspar bergumam.
Baltazhar tidak mengindahkannya. Ia sibuk menikmati bintang itu.
”Ia tidak pernah ada di situ sebelumnya. Tidak pernah ada kapanpun. Sepertinya ia hanya sekali saja terbit sepanjang sejarah kehidupan manusia ini”. Baltazhar juga pengamat bintang. ”Bagaimana ia bisa berada di sana? Apakah ia bintang yang baru lahir? Tapi mengapa ia sangat terang?” Baltazhar menambahkan.
”Ia berbicara kepadaku”. Tiba-tiba Gaspar membuka rahasia hatinya.
”Maksud mu? Kita sama-sama tahu kalau bintang adalah penanda saja, ia tidak mungkin berbicara” Baltazhar melihat Gaspar keheranan.
”Iya aku mengerti maksudmu. Tapi pertama kali melihatnya, dalam kesendirian. Ia berbisik kepadaku. Ia tahu kedalaman hatiku. Ia tahu rahasia besarku. Ia membuka dendamku. Dan yang paling penting, ia menjawab pertanyaanku. Ia mengatakan aku bukan pembunuh, Ia mengampuni aku dan Ia mengatakan aku harus menyambutnya.”. Gaspar bercerita sangat serius.
Baltazhar berusaha mengingatkan Gaspar, ”Bintang berotasi saudaraku, Ia tidak bisa berbicara, kita tidak menyembah bintang”.
”Iya aku hanya berusaha menyampaikan apa yang ada di kedalaman hatiku kepadamu”. Gaspar berusaha jujur.
Baltazhar tersanjung dengan kejujuran itu. Ia melihat sebentar ke arah bintang itu. Bintang itu memang sangat indah. Kemudian ia melihat ke arah sahabatnya. Gaspar sedang memandangi bintang itu dengan sangat tenang, penuh pengharapan.
”Nanti akan kucoba cari, apa yang dikatakan pendahulu kita mengenai Bintang Timur ini. Nampaknya aku akan menggali sesuatu yang sangat kuno. Penuh debu. Dan engkau berhutang kepadaku”. Baltazhar akhirnya menyerah dan berjanji membantu rasa penasaran sahabatnya itu.
”Terima kasih” kata Gaspar.
Dan kemudian mereka melanjutkan perbincangan mereka. Mereka berbicara tentang apapun. Tanpa batas.
*************************************************************************
Beberapa minggu kemudian Gaspar menerima surat dari Baltazhar. Merpati peliharaan Baltazhar yang mengantarkannya. Isinya adalah:
Sahabatku,
Engkau harus lihat ini.
”Bintang Timur. Suatu saat nanti Ia akan bersinar. Ia hanya bersinar sekali dalam sejarah kehidupan manusia. Berbahagialah yang mengikuti arahnya. Berbahagialah yang akhirnya melihat DIA, juruselamat umat manusia.”
Baltazhar.
Seketika itu juga bulu kuduk Gaspar berdiri lagi. Mungkinkah? Mungkinkah hal ini? Jika benar hal ini adalah penemuan yang sangat luar biasa. Sekali seumur hidup. Sekali sepanjang sejarah manusia berabad-abad.
Gaspar menjadi sangat bersemangat. Ia melihat sebentar ke langit sebelah timur kemudian ia turun dan mengepak seluruh barangnya. Untuk ini Gaspar akan turun gunung dan ia akan ke tempat Baltazhar. Ia tahu mereka berdua perlu meneliti ini lebih dalam lagi. Baltazhar pasti butuh bantuan. Parthon kebingungan melihat tuannya membereskan barangnya.
”Kita harus ke tempat Baltazhar”. Gaspar sangat bergegas. ”Cepat bereskan barangmu!”. Parthon yang dari tadi melihat dengan penuh kebingungan langsung bergerak dan membereskan barang-barangnya.
Aku akan menyambutmu. Sang penciptaku. Gaspar berbicara sendiri dalam hatinya. Entah kenapa ia bersemangat sekali untuk hal ini. Ia tak pernah sebersemangat ini sebelumnya. Seakan-akan jiwa masa kecilnya lahir kembali. Ia bahkan tidak perduli lagi kalau ia akan turun gunung dan akan bertemu banyak orang. Ia ingin bertemu Bintang Timur itu. Ingin sekali.
Gaspar menginjakkan kakinya di Kota besar Persia. Ia asing sekali dengan segala perubahan yang terjadi. Terutama cara berpakaian manusia. Mereka semua makin gemerlap. Jubah lusuh Gaspar terlihat sangat kusam jika dibandingkan dengan mereka. Apalagi Parthon sang budak. Mereka berdua terlihat seperti orang aneh di tengah kerumunan dan gemerlapan orang tersebut. Namun Gaspar memilih untuk berkonsentrasi dengan Bintang Timur-nya, dari pada memperhatikan perubahan zaman tersebut.
Orang-orang tampak mengenalinya. Mereka berbisik sesuatu. Gaspar tahu mereka berbicara tentangnya. Tentang kepahlawanannya. Beberapa bahkan berdiri tegak saat ia lewat sebagai tanda hormat. Namun Gaspar sudah melupakan semuanya itu. Kalau dulu, mungkin akan ada sedikit kebanggaan tentang kepahlawanannya tersebut. Namun kini, Gaspar telah mengosongkan dirinya dan telah memilih jalan hidupnya yang baru.
Ia sampai di kediaman Baltazhar. Suatu istana kecil khusus untuk para pendeta majus. Wajar saja, pendeta majus dianggap mulia di negeri Persia. Mereka dianggap orang paling berpengetahuan di antara yang lainnya. Mereka memang tekun. Gaspar menoleh ke prajurit penjaga dan menanyakan Baltazhar. Sebentar ia masuk kemudian prajurit itu keluar bersama Baltazhar.
”Gaspar sahabatku...” Baltazhar memberi salam. Gaspar hanya tersenyum. Sebetulnya Baltazhar kaget apa yang membuat Gaspar memutuskan untuk turun gunung, namun Ia menunda pertanyaan itu sampai nanti, setidaknya tidak di depan prajurit jaga itu. Tanpa perlu berkata-kata nampaknya Gaspar juga sudah sepakat akan hal itu.
Baltazhar membawa Gaspar dan Parthon masuk ke kediamannya. Kediamannya adalah suatu rumah dari kayu Libanon yang sangat indah dan kuat. Tempatnya pun bersih dan rapih. Itu memang ciri khas Baltazhar. Rapih dan bersih. Ia masih tinggal seorang diri, belum ada yang mendampingi dia. Tidak tahu apakah dia ingin menyendiri selamanya atau sampai batas waktu tertentu. Mereka berdua dipersilahkan duduk sementara suruhan Baltazhar mempersiapkan kamar untuk Gaspar dan Parthon. Tentu saja Gaspar di rumah utama dan Parthon di bagian belakang, tempat suruhan lainnya berkumpul. Parthon akhirnya memilih mengikuti suruhan Baltazhar ke belakang. Kini tinggal mereka berdua.
”Jadi apakah yang akhirnya membuat engkau turun gunung wahai pahlawan” Baltazhar sedikit mengejek.
”Suara itu, Lo, Bintang Timur, semakin kuat, aku sangat penasaran. Dan aku yakin aku tidak salah. Begitu aku terima suratmu, aku langsung menuju kemari.”
”Ya, dan engkau sampai lupa membalas surat itu kalau engkau mau kemari. Aku belum menyiapkan apa-apa untuk kedatanganmu jadinya. Katakan padaku, sebegitunyakah engkau akan bintang timur itu? Sehingga hal tersebut dapat memaksa engkau turun? Kalau iya, berarti hal ini sangat serius. Engkau saja sampai turun gunung.”. Baltazhar menanyakan kepastian.
”Suara itu. Ia tahu sampai kedalaman hatiku. Ia tahu masa laluku yang kelam. Ia mengenal dendamku. Ia mengenal diriku. Engkau tahu, suara itu bahkan sepertinya lebih mengenal aku dari diriku sendiri.” Gaspar berkata begitu lirih. Baltazhar mendapat kepastiannya dengan perkataan Gaspar. Ia pun akhirnya memilih sepakat dengan sahabatnya itu. Jikalau hal ini mampu membuatnya turun gunung, hal ini pasti sangat serius bagi Gaspar.
”Jadi apa rencanamu?” Baltazhar bertanya.
”Aku akan mengikuti bintang itu. Aku ingin Ia menuntunku.”. Gaspar menjawab.
”Kamu sudah gila? Bagaimana mungkin kita bisa meraih bintang itu. Bagaimana kalau tidak ada apa-apa?”. Baltazhar spontan menjawab. Hal itu menyindir Gaspar.
”Bagaimana kalau ada apa-apa?. Apakah engkau mau melewatkan sang juruselamat manusia? Bagaimana kalau tulisan itu benar?”. Gaspar membalikkan keadaan.
Baltazhar melihat perjalanan dengan perkataan itu. Baltazhar tahu akan ada eksodus yang sangat panjang untuk hal ini. Baltazhar menyukainya. Bahkan, ini adalah impiannya. Suatu perjalanan mengejar bintang. Mempelajari bintang dan misteri di belakangnya. Tidak perlu diminta, Ia sudah sangat setuju untuk mengejar bintang itu. Namun Baltazhar tetap Baltazhar. Ia adalah pekerja yang rapih dan teratur.
”Baiklah kalau begitu. Tinggallah beberapa hari di sini. Kita kumpulkan dulu semua pemberitaan mengenai Bintang Timur ini. Siapa tahu kita bisa memperoleh informasi tambahan untuk mengejar bintang ini.”
“Terima kasih.” Gaspar berkata dengan suara yang sangat mendalam.
Baltazhar menatap sahabatnya itu dan melihat parasnya. Ia yakin itu bukan ucapan terima kasih yang biasa. Itu lebih mendalam. Itu lebih terdengar seperti terima kasih telah mempercayaiku dalam kegilaanku. Terima kasih telah ikut bersemangat bersamaku mengenai hal ini. Terima kasih sahabatku.
”Iya.” Baltazhar menjawab singkat menormalisasi keadaan yang sudah semakin melankolis. Seperti sudah menjadi mekanisme otomatis, ketika kedua orang pria berbincang-bincang, keadaan harus tetap normal dan tidak diperbolehkan sedikitpun mengarah ke pembicaraan yang sentimentil. Pria sebenarnya suka akan hal itu, tetapi mekanisme otomatis itu sering kali menghalangi mereka untuk berbicara hati ke hati.
***********************************************************************************
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita, lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.
Untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmatNya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjianNya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkanNya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kiya, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepadaNya tanpa rasa takut, dalam kekudusan dan kebernaran di hadapanNya seumur hidup kita.
Apakah arti semua tulisan ini? Gaspar dan Baltazhar berpikir keras dalam hati mereka masing-masing.
”Dengar ini”, seru Baltazhar. ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan Ia akan menamai dia Immanuel”.
”Mungkinkah bintang itu sebenarnya adalah bayi yang baru lahir?”, Gaspar balik bertanya.
”Mungkin saja. Sebab dari tadi semua tulisan kuno ini berbicara mengenai seorang anak, seorang bayi, perempuan hamil, anak dara, segala macam. Sepertinya bintang itu penunjuk waktu kelahiran anak itu.” Baltazhar menyeriangi.
Dan engkau Betlehem tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.
”Israel! Yahudi! Mereka ada di timur”. Gaspar mendapat pencerahan. “Dulu pengasuhku adalah seorang Yahudi. Tunggu sebentar, aku baru ingat, Iya, dulu ia pernah bercerita tentang Bintang Timur. Yang aku ingat, ia berkata Bintang itu yang akan menuntunmu kepadaNya. Itu saja. Bintang itu akan menuntunku. Aku yakin ia akan menuntunku kepada Juru selamatku.”
”Tapi masa iya, juruselamatmu, seorang bayi?”. Baltazhar berusaha bersikap skeptis. ”Lagi pula dengar ini: Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih: Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi. Nampaknya juruselamat-mu itu akan mati saat bayi. "
”Aku harus melihat dia, aku harus melihat dia. Kita harus ke Timur. Ke Bintang itu. Bintang itu akan menuntun kita kepada juruselamatku itu.” Gaspar memaksa. Ia ingin Baltazhar ikut dengannya.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar berteriak cukup keras. ”Raja datang, hidup sang Raja”.
Gaspar dan Baltazhar serentak bersujud dan menyembah sang raja. Sang Raja malah menyambut Gaspar dan memaksa Ia berdiri.
”Jangan begitu Gaspar, jika bukan karena engkau, mungkin aku tidak berada di sini hari ini. Aku berhutang padamu, maka aku harus kemari. Mari singgahlah di istanaku. Beristirahatlah di sana. Kita bercakap-cakap, dan engkau bisa menilai prajurit-prajuritkuku yang baru”. Tawa kecil menutup kalimat sang Raja.
Tiba-tiba Gaspar membayangkan lagi senjata, pertempuran, strategi perang, semua itu dan darah, ya darah, itulah yang membuat ia sangat takut, darah. Ia tak lagi ingin semua itu dalam hidupnya. Dengan cepat ia mengatur kata-katanya. Ia harus melakukannya, menolak permintaan Raja bisa berarti pula tiang gantungan. Bukan hal mustahil.
”Ah Raja terlalu merendah. Engkau berada di sana tentu karena kebijakan paduka dan hikmat anda nyata dengan makin majunya negeri ini. Namun, hambamu sudah lama sekali tidak mengikuti dunia perang. Hambamu sudah mundur dari dunia ini Paduka. Hamba hanya ingin mencari ketenangan hidup. Mohon mengerti hamba. Pula, hamba harus meneruskan perjalanan hamba segera, ada yang harus hamba lakukan. Maafkan kelancangan hamba.” Gaspar menjawab dengan sangat hati-hati.
Raja tidak lagi melihat kecongkakan di pria yang ada di hadapannya ini. Padahal badannya masih gagah bak pahlawan, bahkan terlihat lebih matang. Namun ia berubah menjadi sangat bijak. Tersirat sedikit kesedihan di mukanya, namun Raja tidak lagi melihat kebencian pada Gaspar. Sebenarnya Ia salut pada Gaspar. Ia adalah pria yang sangat kharismatik buat Raja.
Untuk orang lain pasti Raja akan marah jika permintaannya ditolak, tapi karena ini Gaspar, maka ia tak sanggup untuk memaksa.
”Mau kemanakah engkau pahlawan? Engkau bilang tadi akan meneruskan perjalanan. Hal penting apakah itu yang akhirnya dapat membuat engkau turun gunung?” Raja begitu tidak sabar. Hal itu pasti penting sekali sehingga Gaspar harus turun gunung.
Kedua orang majus itu lihat-lihatan. Mereka yang kini berdiri tegak dan tersembunyi di balik jubah-jubah itu terlihat berbicara isyarat satu dengan yang lain. Nampaknya mereka tidak ingin membuka hal penting tersebut secara gamblang kepada Raja. Namun Raja dapat menangkap hal itu.
”Prajurit, tunggulah di luar”. Raja tiba-tiba mengusir seluruh penjaganya ke luar ruangan. Gaspar dan Baltazhar pasti tidak bisa menolak kali ini.
”Kini tinggal kita bertiga. Kalaupun, katakanlah kepadaku apa yang akan kalian lakukan. Setidaknya ceritakanlah kepadaku sebagai seorang sahabat.”. Raja memang tidak percuma berada di tahtanya. Ia mampu membaca situasi dengan cerdik.
Kemudian Gaspar dan Baltazhar menceritakan tentang rencana perjalanan mereka. Mencari bintang itu. Tidak semua hal diceritakan kepada Raja, terutama masalah hati. Baltazhar mendukung Gaspar. Awalnya Raja kaget dengan hal tersebut. Hal yang sangat tidak masuk akal, namun saat Raja kembali mengingat bahwa hal tersebut mampu membuat seorang Gaspar turun gunung maka ia pun memandang hal itu dengan sangat serius.
Raja mendukung perjalanan itu. Ia menghormati Gaspar dan Baltazhar, namun ia sendiri tidak dapat ikut dengan mereka. Ia memberikan satu pasukan penjaganya untuk berjalan bersama Baltazhar dan Gaspar ke timur. Perjalanan yang tidak pasti. Perjalanan yang sama sekali tidak memiliki tujuan. Hanya mengejar sebuah bintang. Bintang yang bersinar terang di langit. Bintang Timur.
Tahun 2008 = Tahun Kasih
Udah 2 tahun belakangan ini gua baca buku di akhir tahun. Dan so pasti setiap seseorang membaca buku pengaruhnya akan sangat besar dalam kehidupan pembaca tersebut. Apalagi orang kayak gua, gua paling malas bertanya 2 kali untuk setiap buku yang gua baca. Gua akan setuju dan manut-manut aja akan apa isi buku itu. Gua males bertanya-tanya lagi. Pasrah aja kalo buku yang ditulis itu adalah kebenaran.
Buku yang baru-baru ini gua baca adalah:
Buku ini bercerita sepenuhnya tentang kasih. Kasih yang tidak sombong, tidak pencemburu, kasih yang murah hati, kasih yang sabar, kasih yang menutupi segala sesuatu, dan sebagainya.
Melalui buku ini gua juga jadi menyadari suatu hal. Gua ini ternyata mudah sekali mengasihi orang. Tadinya gua bingung, perasaan teman-teman kantor gua biasa-biasa aja. Mungkin karena hubungan sebatas pekerjaan kali ya. Jadi gua menganggap kalau kondisi ini adalah kondisi yang normal dalam hubungan sesama manusia. Biasa-biasa aja. Tapi ternyata gua salah. Kalau selama ini gua memendam rasa kasih itu gua sangat salah besar. Karena kasih itu bukan berasal dari gua. Tapi dari Tuhan. DIA udah terlebih dahulu mengasihi gua, sabar terhadap gua, mengampuni gua, dsb. Karena itu lah gua secara otomatis mengasihi kepada orang lain, sabar terhadap orang lain, dsb. Itu bukan karena gua. Kasih itu mengalir keluar begitu saja kepada sesama. Bukan karena gua, melainkan karena gua udah dikasihi terlebih dahulu. Kasih itu terpancar keluar karena gua udah dikasihi terlebih dahulu. Seperti gelas yang telah terisi penuh dengan air dan tumpah, demikianlah diri gua udah penuh dengan kasih dan otomatis gua menumpahkan ke seantero lingkungan gua. Dimanapun gua berada.
Itu sekilas tentang kasih. Dan karenanya gua bertekad kalo tahun 2008 ini adalah tahun penerapan kasih. Kasih yang gak sok tahu, melainkan mau menghargai orang. Kasih yang bukan karena pengetahuan, melainkan apa yang ada di hati orang lain.
Mantaplah!
Maju terus 'hat, pantang mundur.
Buku yang baru-baru ini gua baca adalah:
Kasih yang Patut Diberikan
Max Lucado
Buku ini bercerita sepenuhnya tentang kasih. Kasih yang tidak sombong, tidak pencemburu, kasih yang murah hati, kasih yang sabar, kasih yang menutupi segala sesuatu, dan sebagainya.
Melalui buku ini gua juga jadi menyadari suatu hal. Gua ini ternyata mudah sekali mengasihi orang. Tadinya gua bingung, perasaan teman-teman kantor gua biasa-biasa aja. Mungkin karena hubungan sebatas pekerjaan kali ya. Jadi gua menganggap kalau kondisi ini adalah kondisi yang normal dalam hubungan sesama manusia. Biasa-biasa aja. Tapi ternyata gua salah. Kalau selama ini gua memendam rasa kasih itu gua sangat salah besar. Karena kasih itu bukan berasal dari gua. Tapi dari Tuhan. DIA udah terlebih dahulu mengasihi gua, sabar terhadap gua, mengampuni gua, dsb. Karena itu lah gua secara otomatis mengasihi kepada orang lain, sabar terhadap orang lain, dsb. Itu bukan karena gua. Kasih itu mengalir keluar begitu saja kepada sesama. Bukan karena gua, melainkan karena gua udah dikasihi terlebih dahulu. Kasih itu terpancar keluar karena gua udah dikasihi terlebih dahulu. Seperti gelas yang telah terisi penuh dengan air dan tumpah, demikianlah diri gua udah penuh dengan kasih dan otomatis gua menumpahkan ke seantero lingkungan gua. Dimanapun gua berada.
Itu sekilas tentang kasih. Dan karenanya gua bertekad kalo tahun 2008 ini adalah tahun penerapan kasih. Kasih yang gak sok tahu, melainkan mau menghargai orang. Kasih yang bukan karena pengetahuan, melainkan apa yang ada di hati orang lain.
Mantaplah!
Maju terus 'hat, pantang mundur.
Kisah Seorang Majus (Bagian V)
The War
Gaspar kaget sekali, di tempat itu, di tenda yang dibangun tentara Romawi di atas bukit, Markus Aerilius, orang yang membunuh Ayahnya, tidak seperti yang dia bayangkan. Markus kini hanyalah seorang bapak tua dengan perut buncit dan nafas yang terengah-engah. Gaspar kecewa sekali. Ia telah berlatih pedang begitu rupa untuk bertempur dengan pria ini. Ia telah melatih tubuhnya menjadi kekar. Ia telah mengorbankan segalanya hanya untuk pria tua gendut di depannya itu. Gaspar kecewa. Benar-benar kecewa. Ia merasa, Ia tidak perlu mengorbankan seluruh kehidupannya hanya untuk melawan orang yang sudah hampir mati ini. Namun pikiran itu langsung lenyap. Lenyap ditelan amarah dan balas dendam yang sudah menggerogoti dan menghisap jiwa Gaspar. Hari itu, dendam Gaspar harus terbalaskan. Harus.
Ramalan itu benar. Hujan dan badai sangat lebat turun di Mesopotamia siang itu. Begitu kedua pasukan, pasukan Persia dan pasukan Romawi berhadap-hadapan, suara seorang yang membaca mantera terdengar jauh di atas bukit. Awalnya pelan seperti berbisi, namun lama-lama makin mengeras, makin mengeras, makin mengeras sampai terdengar seperti gemuruh.
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”ASKBAR AN NỪ KYIRALABA SYIKA TARANTA KANSA...”
Dan tiba-tiba awan hitam menggumpal di seantero tempat itu. Awan yang sangat pekat hingga hanya sedikit cahaya matahari yang tersisa untuk tempat itu. Sangat gelap. Medan perang itu berubah menjadi sangat gelap. Tiba-tiba tetesan air jatuh menuju bumi. Satu tetes air yang mendahului hujan yang sangat lebar jatuh membasahi tanah kering itu. Setetes air tersebut memuaskan dahaga tanah kering tersebut di musim kering tersebut. Sudah lama tanah itu tidak minum. Setetes itu merasuk ke pori-pori tanah, membasahi tiap butir-butir pasir sehingga diri mereka masing-masing menjadi basah, basah kuyup. Butir-butir pasir itu dapat merasakan bahwa cairan itu terlampau banyak. Mereka tidak lagi dapat menahannya. Cairan itu terlampau banyak. Mereka yang tadinya keras tiba-tiba menjadi lembek sekali. Dan karena mereka sangat tebal mereka terus menerima cairan-carian itu. Tanah keras itu sadar kalau kini mereka menjadi lumpur.
Suara itu adalah suara Asgix. Ia memanggil hujan lebat itu turun. Ia tidak diundang, namun Ia datang. Ia merentangkan tangannya lebar, dengan tongkat kayu berkelok di tangan kanannya. Gemuruh yang sangat kuat menghantui pasukan romawi. Namun mereka tidak tahu ketakutan yang sebenarnya. Mantera Asgix tidak hanya memanggil badai, Ia juga melahirkan gempa. Gempa yang sanggup meruntuhkan batu-batu di lereng bukit meluncur langsung menuju pasukan romawi.
Begitu satu batu meluncur, begitu tanah sudah menjadi lumpur, begitu ketakutan sangat melanda pasukan romawi, komandan pasukan Persia berteriak:
”Serang!”
Dan teriakan itu disambut oleh puluhan ribu pasukan Persia yang berteriak
”Seraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......aaaaaaaa...aaaaaaaaanngggg!”
Suara mereka berestafet. Dari barisan paling depan hingga barisan paling belakang. Suara itu adalah untuk menimbulkan kegentaran untuk lawannya. Dan mereka berhasil. Di tengah hujan lebat, dan kegentaran yang begitu dahsyat, para pasukan pemanah Romawi gemetar. Mereka melepas anak panah, namun banyak yang menghilang dan salah arah. Hanya beberapa kesempatan saja mereka bisa melepas anah panah. Pasukan Persia sudah mendekat.
Lihat, mereka semua menanggalkan baju zirahnya. Mereka bergerak sangat leluasa dengan menggunakan hanya selembar kain yang menutupi diri mereka. Seluruh tubuh mereka juga dilumuri minyak. Pasukan Romawi tidak mengerti tentang hujan lebat dan lumpur ini. Mereka terjebak dalam jubah kebesaran mereka masing-masing, mereka sangat sulit bergerak..
Mesiu yang dipersiapkan oleh Pasukan Romawi ini juga tidak dapat digunakan. Hujan terlalu lebat. Pasukan Romawi membeli banyak sekali mesiu dari Kaisar Asia Timur. Komandan Romawi sudah berteriak dari tadi: ”Lepaskan mesiu”. Namun para operator mesiu selalu membalas: ”Tidak bisa komandan, apinya selalu mati, hujan terlalu lebat, kita tidak bisa menggunakan alat ini.”
Sementara itu batu-batu besar mulai mendarat di Pasukan Romawi. Mereka terkepung. Mereka terpojok. Mereka mulai tunggang langgang. Kekuatan mereka dengan mudah dikalahkan oleh kecepatan dan keluwesan pasukan persia. Mereka terjebak. Kemudian komandan pasukan romawi berteriak: ”buka baju zirah! Buka baju zirah! Buka sepatu besi! Buka sepatu besi!”. Seluruh pasukan itu menyeriangi dengan membuka baju zirah dan kasut besi mereka. Namun hal itu sudah terlambat.
Tiba-tiba ratusan bahkan ribuan anak panah mendarat di pasukan romawi. Anehnya anak panah-anak panah itu hanya mengarah ke tempat yang sama. Hal ini dengan sangat mudah dihindari oleh pasukan romawi. Tiba-tiba komandan romawi berteriak:
”Jangan berpisah! Tetap satu! Jangan berpisah tetap satu! Jangan terpecah! Tetap dalam barisan”.
Namun tidak bisa. Dalam ketakutan yang sangat besar, ego tiap-tiap orang tersebut muncul. Kebanggan pasukan romawi yang besar itu hilang begitu saja. Mereka ingin menyelamatkan diri masing-masing dari anak panah-anak panah itu.
Pasukan romawi mulai terbagi dua. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat kuat makin lama makin mendekat pasukan romawi. Itu adalah pasukan berkuda. Mereka seperti telah mengenal tempat itu sebelumnya. Pasukan kuda itu berhasil mengenali tanah-tanah keras di tengah lumpur yang dalam tersebut. Kuda-kuda itu tidak terperosok. Pula mereka dipakaikan sepatu khusus terbuat dari bahan seperti plastik. Kuda-kuda itu juga dapat bergerak dengan leluasa. Pasukan berkuda itu mengejar pasukan romawi yang bergerak mundur ke arah barat. Pasukan itu terpojok. Antara bukit dan pasukan persia. Sementara pasukan persia menyerang habis-habisan pasukan yang di sebelah timur.
”Gaspar, anak Margot!” Markus berseru. Dan kemudian tertawa. Tertawa sangat keras. ”Hahahahhahahahahahhaa.....”. Tawa itu membuat Gaspar sangat kesal. Dan tiba-tiba tawa itu berhenti karena tersedak ”Aakh...” Markus terhunus pedang. Pedang dari Gaspar. Setengah dendam Gaspar terbalas sudah. Kemudian Markus tertawa lagi.
“Hahahahaha... jadi kau hendak membalas dendammu?“. Kali ini dengan terbata-bata. Kau berhasil nak. Tapi kau tetap tidak akan tenang. Selamanya kau tidak akan tenang.
”Hahahahahaha....” dan kemudian Markus berhenti bernafas.
Gaspar sangat puas. Ia berhasil membalaskan dendamnya. Ia berhasil membunuh pembunuh ayahnya. Namun tiba-tiba ia menangis. Perasaanya itu sangat mendalam. Dari berbagai binatang, prajurit romawi yang telah ia bunuh kali ini ia baru bisa merasakan kalau ia adalah seorang pembunuh. Aku seorang pembunuh. Aku pembunuh. Dari kecil Gaspar tidak suka membunuh. Dari kecil Gaspar tidak suka berperang. Dari kecil Ia tidak ingin melakukan apa yang dilakukan ayahnya. Ia lebih memilih kedamaian dari pada peperangan. Tapi hari itu ia menyadari kalau ia telah membunuh seseorang, sesamanya, dengan kedua tangannya sendiri. Dengan pedangnya. Terlebih dengan dendam hatinya yang sangat mendalam. Ia telah membunuh manusia. Ia telah menghentikan kehidupan seorang manusia dengan kuasanya. Ia merasa tidak berhak atas hal tersebut. Ia kemudian jatuh bersujud. Ia tidak lagi perduli dengan perang yang sedang berlangsung. Ia hanya menyadari bahwa perang, dendam dan pembunuhan tidak akan pernah selesai. Semua akan tetap seperti itu. Ego manusia, dendam, dan sebagainya, masih terlalu tinggi untuk tidak adanya perang. Harus ada sesuatu, sesuatu yang menghentikan semua ini. Semua ini.
Kemudian ia berteriak sangat keras. Keras sekali.
”Berhenti.......!!!”. Namun tidak ada yang dapat mendengarnya.
Semua kembali berperang. Persia berhasil mengalahkan Romawi di perang besar kali itu. Markus Aerilius tewas di perang itu. Dendam Gaspar pun mati di peperangan itu. Namun Gaspar menjadi pendiam dan sedikit gila. Ia tidak pulang bersama dengan pasukan persia kembali ke raja. Tetapi ia berada di situ. Ia mengumpulkan semua mayat itu. Ia menjadikannya beberapa tumpuk mayat. Ia membakar semua tumpukan itu bergantian. Ia mengerjakannya berhari-hari.
Ditumpukkan terakhir, Asgix menghampiri dia. Asgix memegang bahu kiri Gaspar. Melihat cincin di tangan itu Gaspar tidak berbalik. Ia tahu itu adalah Asgix. Ia hanya terdiam melihat tumpukan mayat di depannya terbakar. Kasih dan kelembutan seperti mengalir dari tangan Asgix. Gaspar tidak tahan lagi. Ia menangis. Ia kembali mengingat keluarganya yang habis dibantai saat perang. Ya, dia tidak lagi memandang karena pasukan romawi, melainkan karena perang. Ia juga mengingat semuanya habis karena perang. Ia tidak ingin seperti itu. Ia ingin kedamaian untuk manusia. Begitu deras kasih dan kelembutan itu mengalir dari Asgix. Ia tidak kuat. Selama ini ia diliputi kebencian. Dendam. Ia tidak pernah bisa merasakan kasih dan kelembutan itu. Namun kali ini kelembutan itu mengalir merasuk ke dalam hatinya. Ia menerima kasih kelembutan itu kali ini. Ia terduduk, tangisnya makin keras. Ia terpukul begitu sangat. Aku pembunuh. Aku membunuh. Asgix ikut duduk. Ia merangkul Gaspar beberapa lama. Ia membiarkan Gaspar merasakan kasih kelembutan yang selama ini tidak lagi ia rasakan. Gaspar menikmatinya lama sekali. Ia ingin tenggelam dalam kasih tersebut. Sampah busuk dendam di hatinya sudah terlampau bau dan jijik. Kini itu semua dibersihkan dari hatinya. Gaspar menikmatinya. Sangat.
Gaspar kaget sekali, di tempat itu, di tenda yang dibangun tentara Romawi di atas bukit, Markus Aerilius, orang yang membunuh Ayahnya, tidak seperti yang dia bayangkan. Markus kini hanyalah seorang bapak tua dengan perut buncit dan nafas yang terengah-engah. Gaspar kecewa sekali. Ia telah berlatih pedang begitu rupa untuk bertempur dengan pria ini. Ia telah melatih tubuhnya menjadi kekar. Ia telah mengorbankan segalanya hanya untuk pria tua gendut di depannya itu. Gaspar kecewa. Benar-benar kecewa. Ia merasa, Ia tidak perlu mengorbankan seluruh kehidupannya hanya untuk melawan orang yang sudah hampir mati ini. Namun pikiran itu langsung lenyap. Lenyap ditelan amarah dan balas dendam yang sudah menggerogoti dan menghisap jiwa Gaspar. Hari itu, dendam Gaspar harus terbalaskan. Harus.
Ramalan itu benar. Hujan dan badai sangat lebat turun di Mesopotamia siang itu. Begitu kedua pasukan, pasukan Persia dan pasukan Romawi berhadap-hadapan, suara seorang yang membaca mantera terdengar jauh di atas bukit. Awalnya pelan seperti berbisi, namun lama-lama makin mengeras, makin mengeras, makin mengeras sampai terdengar seperti gemuruh.
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”Askabar an nừ kyiaralaba syika taranta kansa...”
”ASKBAR AN NỪ KYIRALABA SYIKA TARANTA KANSA...”
Dan tiba-tiba awan hitam menggumpal di seantero tempat itu. Awan yang sangat pekat hingga hanya sedikit cahaya matahari yang tersisa untuk tempat itu. Sangat gelap. Medan perang itu berubah menjadi sangat gelap. Tiba-tiba tetesan air jatuh menuju bumi. Satu tetes air yang mendahului hujan yang sangat lebar jatuh membasahi tanah kering itu. Setetes air tersebut memuaskan dahaga tanah kering tersebut di musim kering tersebut. Sudah lama tanah itu tidak minum. Setetes itu merasuk ke pori-pori tanah, membasahi tiap butir-butir pasir sehingga diri mereka masing-masing menjadi basah, basah kuyup. Butir-butir pasir itu dapat merasakan bahwa cairan itu terlampau banyak. Mereka tidak lagi dapat menahannya. Cairan itu terlampau banyak. Mereka yang tadinya keras tiba-tiba menjadi lembek sekali. Dan karena mereka sangat tebal mereka terus menerima cairan-carian itu. Tanah keras itu sadar kalau kini mereka menjadi lumpur.
Suara itu adalah suara Asgix. Ia memanggil hujan lebat itu turun. Ia tidak diundang, namun Ia datang. Ia merentangkan tangannya lebar, dengan tongkat kayu berkelok di tangan kanannya. Gemuruh yang sangat kuat menghantui pasukan romawi. Namun mereka tidak tahu ketakutan yang sebenarnya. Mantera Asgix tidak hanya memanggil badai, Ia juga melahirkan gempa. Gempa yang sanggup meruntuhkan batu-batu di lereng bukit meluncur langsung menuju pasukan romawi.
Begitu satu batu meluncur, begitu tanah sudah menjadi lumpur, begitu ketakutan sangat melanda pasukan romawi, komandan pasukan Persia berteriak:
”Serang!”
Dan teriakan itu disambut oleh puluhan ribu pasukan Persia yang berteriak
”Seraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa......aaaaaaaa...aaaaaaaaanngggg!”
Suara mereka berestafet. Dari barisan paling depan hingga barisan paling belakang. Suara itu adalah untuk menimbulkan kegentaran untuk lawannya. Dan mereka berhasil. Di tengah hujan lebat, dan kegentaran yang begitu dahsyat, para pasukan pemanah Romawi gemetar. Mereka melepas anak panah, namun banyak yang menghilang dan salah arah. Hanya beberapa kesempatan saja mereka bisa melepas anah panah. Pasukan Persia sudah mendekat.
Lihat, mereka semua menanggalkan baju zirahnya. Mereka bergerak sangat leluasa dengan menggunakan hanya selembar kain yang menutupi diri mereka. Seluruh tubuh mereka juga dilumuri minyak. Pasukan Romawi tidak mengerti tentang hujan lebat dan lumpur ini. Mereka terjebak dalam jubah kebesaran mereka masing-masing, mereka sangat sulit bergerak..
Mesiu yang dipersiapkan oleh Pasukan Romawi ini juga tidak dapat digunakan. Hujan terlalu lebat. Pasukan Romawi membeli banyak sekali mesiu dari Kaisar Asia Timur. Komandan Romawi sudah berteriak dari tadi: ”Lepaskan mesiu”. Namun para operator mesiu selalu membalas: ”Tidak bisa komandan, apinya selalu mati, hujan terlalu lebat, kita tidak bisa menggunakan alat ini.”
Sementara itu batu-batu besar mulai mendarat di Pasukan Romawi. Mereka terkepung. Mereka terpojok. Mereka mulai tunggang langgang. Kekuatan mereka dengan mudah dikalahkan oleh kecepatan dan keluwesan pasukan persia. Mereka terjebak. Kemudian komandan pasukan romawi berteriak: ”buka baju zirah! Buka baju zirah! Buka sepatu besi! Buka sepatu besi!”. Seluruh pasukan itu menyeriangi dengan membuka baju zirah dan kasut besi mereka. Namun hal itu sudah terlambat.
Tiba-tiba ratusan bahkan ribuan anak panah mendarat di pasukan romawi. Anehnya anak panah-anak panah itu hanya mengarah ke tempat yang sama. Hal ini dengan sangat mudah dihindari oleh pasukan romawi. Tiba-tiba komandan romawi berteriak:
”Jangan berpisah! Tetap satu! Jangan berpisah tetap satu! Jangan terpecah! Tetap dalam barisan”.
Namun tidak bisa. Dalam ketakutan yang sangat besar, ego tiap-tiap orang tersebut muncul. Kebanggan pasukan romawi yang besar itu hilang begitu saja. Mereka ingin menyelamatkan diri masing-masing dari anak panah-anak panah itu.
Pasukan romawi mulai terbagi dua. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang sangat kuat makin lama makin mendekat pasukan romawi. Itu adalah pasukan berkuda. Mereka seperti telah mengenal tempat itu sebelumnya. Pasukan kuda itu berhasil mengenali tanah-tanah keras di tengah lumpur yang dalam tersebut. Kuda-kuda itu tidak terperosok. Pula mereka dipakaikan sepatu khusus terbuat dari bahan seperti plastik. Kuda-kuda itu juga dapat bergerak dengan leluasa. Pasukan berkuda itu mengejar pasukan romawi yang bergerak mundur ke arah barat. Pasukan itu terpojok. Antara bukit dan pasukan persia. Sementara pasukan persia menyerang habis-habisan pasukan yang di sebelah timur.
”Gaspar, anak Margot!” Markus berseru. Dan kemudian tertawa. Tertawa sangat keras. ”Hahahahhahahahahahhaa.....”. Tawa itu membuat Gaspar sangat kesal. Dan tiba-tiba tawa itu berhenti karena tersedak ”Aakh...” Markus terhunus pedang. Pedang dari Gaspar. Setengah dendam Gaspar terbalas sudah. Kemudian Markus tertawa lagi.
“Hahahahaha... jadi kau hendak membalas dendammu?“. Kali ini dengan terbata-bata. Kau berhasil nak. Tapi kau tetap tidak akan tenang. Selamanya kau tidak akan tenang.
”Hahahahahaha....” dan kemudian Markus berhenti bernafas.
Gaspar sangat puas. Ia berhasil membalaskan dendamnya. Ia berhasil membunuh pembunuh ayahnya. Namun tiba-tiba ia menangis. Perasaanya itu sangat mendalam. Dari berbagai binatang, prajurit romawi yang telah ia bunuh kali ini ia baru bisa merasakan kalau ia adalah seorang pembunuh. Aku seorang pembunuh. Aku pembunuh. Dari kecil Gaspar tidak suka membunuh. Dari kecil Gaspar tidak suka berperang. Dari kecil Ia tidak ingin melakukan apa yang dilakukan ayahnya. Ia lebih memilih kedamaian dari pada peperangan. Tapi hari itu ia menyadari kalau ia telah membunuh seseorang, sesamanya, dengan kedua tangannya sendiri. Dengan pedangnya. Terlebih dengan dendam hatinya yang sangat mendalam. Ia telah membunuh manusia. Ia telah menghentikan kehidupan seorang manusia dengan kuasanya. Ia merasa tidak berhak atas hal tersebut. Ia kemudian jatuh bersujud. Ia tidak lagi perduli dengan perang yang sedang berlangsung. Ia hanya menyadari bahwa perang, dendam dan pembunuhan tidak akan pernah selesai. Semua akan tetap seperti itu. Ego manusia, dendam, dan sebagainya, masih terlalu tinggi untuk tidak adanya perang. Harus ada sesuatu, sesuatu yang menghentikan semua ini. Semua ini.
Kemudian ia berteriak sangat keras. Keras sekali.
”Berhenti.......!!!”. Namun tidak ada yang dapat mendengarnya.
Semua kembali berperang. Persia berhasil mengalahkan Romawi di perang besar kali itu. Markus Aerilius tewas di perang itu. Dendam Gaspar pun mati di peperangan itu. Namun Gaspar menjadi pendiam dan sedikit gila. Ia tidak pulang bersama dengan pasukan persia kembali ke raja. Tetapi ia berada di situ. Ia mengumpulkan semua mayat itu. Ia menjadikannya beberapa tumpuk mayat. Ia membakar semua tumpukan itu bergantian. Ia mengerjakannya berhari-hari.
Ditumpukkan terakhir, Asgix menghampiri dia. Asgix memegang bahu kiri Gaspar. Melihat cincin di tangan itu Gaspar tidak berbalik. Ia tahu itu adalah Asgix. Ia hanya terdiam melihat tumpukan mayat di depannya terbakar. Kasih dan kelembutan seperti mengalir dari tangan Asgix. Gaspar tidak tahan lagi. Ia menangis. Ia kembali mengingat keluarganya yang habis dibantai saat perang. Ya, dia tidak lagi memandang karena pasukan romawi, melainkan karena perang. Ia juga mengingat semuanya habis karena perang. Ia tidak ingin seperti itu. Ia ingin kedamaian untuk manusia. Begitu deras kasih dan kelembutan itu mengalir dari Asgix. Ia tidak kuat. Selama ini ia diliputi kebencian. Dendam. Ia tidak pernah bisa merasakan kasih dan kelembutan itu. Namun kali ini kelembutan itu mengalir merasuk ke dalam hatinya. Ia menerima kasih kelembutan itu kali ini. Ia terduduk, tangisnya makin keras. Ia terpukul begitu sangat. Aku pembunuh. Aku membunuh. Asgix ikut duduk. Ia merangkul Gaspar beberapa lama. Ia membiarkan Gaspar merasakan kasih kelembutan yang selama ini tidak lagi ia rasakan. Gaspar menikmatinya lama sekali. Ia ingin tenggelam dalam kasih tersebut. Sampah busuk dendam di hatinya sudah terlampau bau dan jijik. Kini itu semua dibersihkan dari hatinya. Gaspar menikmatinya. Sangat.
Subscribe to:
Posts (Atom)