udah lama ga nulis.
gak tau yah, nulis blog bukan favorit lagi sekarang.
sekarang favoritnya bacain status orang di facebook.
trus update status di facebook.
hmm.. aneh banget kegemaran barunya.
meanwhile, kerjaan banyak banget.
jadi sign out dulu deh.
bye.
Wednesday, February 10, 2010
Thursday, January 07, 2010
Starting Event Organizer
No more talk, no more thinking.
Address:
(my house for now)
Scope of Work:
My dream is about to come true.
ACTION!!Name:
Ginger DuskSlogan:
We please to make you happy
Address:
(my house for now)
Kalibaru Barat IV no 26 RT 02/07
Cilincing. Kalibaru. Jakarta Utara. 14110
Scope of Work:
Wedding, Music Concert, Exhibition, Auction, Book Author Signing, etc.
My dream is about to come true.
Monday, January 04, 2010
Membangun Choir
Belakangan sedang bekerja juga untuk membangun suatu Paduan Suara atau Koor atau Choir di gereja. Membangun suatu Paduan Suara yang berkualitas dengan kecintaan terhadap pujian-pujian indah buat Tuhan..
Dalam menjalani hal tersebut, banyak sekali masalah dan dilema. Masalah terbesar adalah: JUMLAH ORANG. Ini menjadi masalah besar sekali, karena memang zaman sekarang ini sedikit sekali anak muda yang menyukai paduan suara. Paduan Suara terdengar membosankan dan monoton. Apalagi dengan diharuskannya setiap penyanyi untuk bisa membaca partitur paduan suara. Ah.. nampaknya lebih senang bernyanyi lagu-lagu di kaset atau mp3 yang biasa diputar di radio dan televisi.
Sebenarnya banyak juga lho lagu-lagu pujian Pop masa kini yang di-arrange ulang menjadi repertoir paduan suara. Namun, ITULAH DILEMANYA.
"Ketika harus memilih jenis lagu yang ditampilkan, apakah harus dipilih lagu-lagu yang mudah, sehingga banyak penyanyi yang datang,
atau kah, pilihlah lagu-lagu yang menunjukkan "keindahan" paduan suara itu sendiri, namun sedikit penyanyi yang datang?"
Dilema ini mungkin bisa diatasi dengan gantian pemilihan lagu tiap minggu. Misalnya dalam 1 bulan terdapat 4 minggu, maka dipilih 2 minggu lagu mudah dan 2 minggu lagu paduan suara. Tetapi itu nampaknya hanya akan menjadikan kualitas paduan suara ditengah-tengah. Hmm.. mungkin bisa tingkat kesulitan dinaikkan sedikit-sedikit, tetapi itu juga kalau seluruh penyanyi konsisten datang.
Masalahnya penyanyi itu datangnya bergantian. Minggu ini si A tidak datang, minggu depan si B, minggu depannya si C. Hmm.. pusing juga.
Ternyata permasalahannya kompleks juga yah. Masalahnya Orang tua sangat menuntut pemudanya berprestasi dalam Paduan Suara. Seperti hidup dalam kebohongan. Anggotanya tidak terlalu menyukai Paduan Suara tetapi dituntut untuk suka.
Dalam menjalani hal tersebut, banyak sekali masalah dan dilema. Masalah terbesar adalah: JUMLAH ORANG. Ini menjadi masalah besar sekali, karena memang zaman sekarang ini sedikit sekali anak muda yang menyukai paduan suara. Paduan Suara terdengar membosankan dan monoton. Apalagi dengan diharuskannya setiap penyanyi untuk bisa membaca partitur paduan suara. Ah.. nampaknya lebih senang bernyanyi lagu-lagu di kaset atau mp3 yang biasa diputar di radio dan televisi.
Sebenarnya banyak juga lho lagu-lagu pujian Pop masa kini yang di-arrange ulang menjadi repertoir paduan suara. Namun, ITULAH DILEMANYA.
"Ketika harus memilih jenis lagu yang ditampilkan, apakah harus dipilih lagu-lagu yang mudah, sehingga banyak penyanyi yang datang,
atau kah, pilihlah lagu-lagu yang menunjukkan "keindahan" paduan suara itu sendiri, namun sedikit penyanyi yang datang?"
Dilema ini mungkin bisa diatasi dengan gantian pemilihan lagu tiap minggu. Misalnya dalam 1 bulan terdapat 4 minggu, maka dipilih 2 minggu lagu mudah dan 2 minggu lagu paduan suara. Tetapi itu nampaknya hanya akan menjadikan kualitas paduan suara ditengah-tengah. Hmm.. mungkin bisa tingkat kesulitan dinaikkan sedikit-sedikit, tetapi itu juga kalau seluruh penyanyi konsisten datang.
Masalahnya penyanyi itu datangnya bergantian. Minggu ini si A tidak datang, minggu depan si B, minggu depannya si C. Hmm.. pusing juga.
Ternyata permasalahannya kompleks juga yah. Masalahnya Orang tua sangat menuntut pemudanya berprestasi dalam Paduan Suara. Seperti hidup dalam kebohongan. Anggotanya tidak terlalu menyukai Paduan Suara tetapi dituntut untuk suka.
Wednesday, December 30, 2009
Tuesday, November 10, 2009
Respon Manusia
Baru saja membaca salah satu berita di koran online berbahasa Indonesia. Berita tersebut mengenai seorang anak yang memiliki penyakit yang aneh. Bayi perempuan tersebut tidak boleh menangis. Jika menangis dia akan menjadi pucat dan biru. Bola matanya akan bergerak kebelakang dan ia menjadi kejang. Sesak dan membatu, tidak bisa bernafas. Dalam beberapa waktu, sang bayi mungil dapat meninggal seketika.
Yang menarik adalah respon dari para komentator pada artikel tersebut. Maklum, koran online tersebut membuka kesempatan untuk para pembaca mem-feed back artikel tersebut. Beberapa komentarnya adalah sbb.:
"Gua baru dengar ada penyakit seperti itu..."
"Kasihan sekali..."
"Penyakit jaman sekarang makin aneh-aneh.."
"Kalau di Indonesia itu namanya kesurupan, panggil aja Paranormal..."
"Cepat sembuh yah sayang, dunia ingin mendengar tawa mungilmu..."
(Saya sangat suka dengan respon yang terakhir).
Tentu saja itu menjadi hak kita untuk merespon apa yang ada dihati dan kepala kita, kemudian kita mengadukan jari-jari kita ke Keyboard, dan menuliskan apa yang menjadi isi kepala dan hati kita.
Yang menjadi masalah adalah mengapa yang di hati kita bisa berbeda-beda? Dari manakah asalnya pikiran-pikiran itu? Dari manakah asalnya perasaan-perasaan itu?
Saya berteori bahwa hal tersebut sangat bergantung pada perjalanan kehidupan orang tersebut. Semisal, hanya semisal, orang yang merespon dengan respon terakhir di atas adalah seorang Ibu. Dia telah mengalami; kurang lebih; pengalaman yang sama dengan anaknya, dan dia berhasil melaluinya. Tak ayal, ada nada optimisme pada komentarnya.
Yang lain mungkin jalan kehidupannya tidak bersinggungan dengan anggota keluarga yang sakit keras. Sehingga Ia memilih komentar yang netral dan tidak menyinggung siapapun.
Manusiawi, sebenarnya topik itu yang ingin diangkat di tulisan kali ini. Mungkin sang orang tua tidak bisa membaca komentar-komentar yang kita layangkan di artikel tersebut, kebetulan artikelnya berbahasa Indonesia, sementara kejadian riilnya ada di dunia barat. Tetapi setidaknya ada dukungan. Suatu doa singkat kepada Yang Maha Kuasa, dan dukungan kemanusiaan; hati nurani; bagi pembaca yang lain, yang mungkin mengalami hal yang sama.
Manusiawi, kemanusiaan, saling peduli, saling kasih, nampaknya hal tersebut menjadi masalah sangat besar di jaman serba canggih seperti sekarang ini. Manusia dapat dengan mudah memilih meninggalkan manusia lainnya dan bergaul dengan mesin-mesinnya. Tentu saja, karena mesin tidak bisa mengkritisi kita, mesin tidak bisa bergesekan dengan kita, mesin tidak bisa menyakiti hati kita, dsb. Namun coba bayangkan, suatu kehidupan tanpa kasih mesra sesama, tanpa saling membantu, tanpa tangis, tanpa pelukan. Suatu kehidupan hambar yang melaju datar di garis benang kehidupan. Apa benar itu yang kita mau??
Yang menarik adalah respon dari para komentator pada artikel tersebut. Maklum, koran online tersebut membuka kesempatan untuk para pembaca mem-feed back artikel tersebut. Beberapa komentarnya adalah sbb.:
"Gua baru dengar ada penyakit seperti itu..."
"Kasihan sekali..."
"Penyakit jaman sekarang makin aneh-aneh.."
"Kalau di Indonesia itu namanya kesurupan, panggil aja Paranormal..."
"Cepat sembuh yah sayang, dunia ingin mendengar tawa mungilmu..."
(Saya sangat suka dengan respon yang terakhir).
Tentu saja itu menjadi hak kita untuk merespon apa yang ada dihati dan kepala kita, kemudian kita mengadukan jari-jari kita ke Keyboard, dan menuliskan apa yang menjadi isi kepala dan hati kita.
Yang menjadi masalah adalah mengapa yang di hati kita bisa berbeda-beda? Dari manakah asalnya pikiran-pikiran itu? Dari manakah asalnya perasaan-perasaan itu?
Saya berteori bahwa hal tersebut sangat bergantung pada perjalanan kehidupan orang tersebut. Semisal, hanya semisal, orang yang merespon dengan respon terakhir di atas adalah seorang Ibu. Dia telah mengalami; kurang lebih; pengalaman yang sama dengan anaknya, dan dia berhasil melaluinya. Tak ayal, ada nada optimisme pada komentarnya.
Yang lain mungkin jalan kehidupannya tidak bersinggungan dengan anggota keluarga yang sakit keras. Sehingga Ia memilih komentar yang netral dan tidak menyinggung siapapun.
Manusiawi, sebenarnya topik itu yang ingin diangkat di tulisan kali ini. Mungkin sang orang tua tidak bisa membaca komentar-komentar yang kita layangkan di artikel tersebut, kebetulan artikelnya berbahasa Indonesia, sementara kejadian riilnya ada di dunia barat. Tetapi setidaknya ada dukungan. Suatu doa singkat kepada Yang Maha Kuasa, dan dukungan kemanusiaan; hati nurani; bagi pembaca yang lain, yang mungkin mengalami hal yang sama.
Manusiawi, kemanusiaan, saling peduli, saling kasih, nampaknya hal tersebut menjadi masalah sangat besar di jaman serba canggih seperti sekarang ini. Manusia dapat dengan mudah memilih meninggalkan manusia lainnya dan bergaul dengan mesin-mesinnya. Tentu saja, karena mesin tidak bisa mengkritisi kita, mesin tidak bisa bergesekan dengan kita, mesin tidak bisa menyakiti hati kita, dsb. Namun coba bayangkan, suatu kehidupan tanpa kasih mesra sesama, tanpa saling membantu, tanpa tangis, tanpa pelukan. Suatu kehidupan hambar yang melaju datar di garis benang kehidupan. Apa benar itu yang kita mau??
Subscribe to:
Posts (Atom)